Tinjauan Ulama Klasik dan Sufi dalam Memahami Huruf Muqatta’at
Teras Batas — Di antara ayat-ayat Al-Qur’an yang paling mengundang perenungan adalah rangkaian huruf di awal Surah Maryam: Kaf Haa Yaa ‘Ain Shad (كهيعص). Lima huruf terpisah ini termasuk dalam kategori huruf muqatta’at, yakni huruf-huruf yang berdiri sendiri dan tidak langsung dijelaskan maknanya.
Sejak masa sahabat, huruf-huruf ini telah menjadi ruang diskusi panjang di kalangan ulama tafsir. Imam Ath-Thabari dalam Jami’ al-Bayan menyebutkan bahwa huruf-huruf tersebut termasuk ayat mutasyabihat yang hakikat maknanya hanya diketahui Allah. Sikap ini kemudian diikuti oleh banyak ulama, sebagai bentuk ketundukan terhadap rahasia ilahi.
Namun sebagian mufasir klasik mencoba mendekatinya dengan analisis simbolik. Imam Al-Qurthubi menjelaskan bahwa huruf-huruf muqatta’at menjadi bukti kemukjizatan Al-Qur’an. Wahyu tersusun dari huruf-huruf yang dikenal manusia, tetapi tidak ada yang mampu menandinginya.
Dalam perspektif yang lebih mendalam, Fakhruddin Ar-Razi dalam Mafatihul Ghaib menyebut bahwa huruf-huruf ini mengandung hikmah besar yang mungkin belum sepenuhnya dapat dijangkau akal manusia.
Sementara itu, para ulama sufi memandang Kaf Haa Yaa ‘Ain Shad sebagai simbol spiritual. Dalam tradisi tafsir isyari, huruf-huruf tersebut sering dikaitkan dengan sifat-sifat Allah.
Sebagian penafsiran sufistik menyebut:
Kaf sebagai isyarat kepada Allah yang Maha Mencukupi,
Haa sebagai simbol kehadiran-Nya,
Yaa sebagai tanda kekuasaan-Nya,
‘Ain sebagai lambang ilmu-Nya,
Shad sebagai simbol kebenaran dan kesabaran.
Huruf-huruf ini hadir sebelum kisah Nabi Zakaria dan kelahiran Nabi Yahya dalam Surah Maryam—sebuah kisah tentang doa, harapan, dan pertolongan Allah yang datang di luar logika manusia.
Bagi kalangan tasawuf, kehadiran huruf-huruf ini mengajarkan bahwa wahyu dimulai dari misteri. Tidak semua makna harus dibuka secara rasional. Ada wilayah iman yang menuntut ketundukan hati.
Di tengah kehidupan modern yang serba logis, huruf-huruf seperti Kaf Haa Yaa ‘Ain Shad mengajak manusia berhenti sejenak. Merenungi bahwa tidak semua realitas dapat dijelaskan dengan rumus dan analisa.
Huruf-huruf itu seperti ketukan awal sebelum ayat berbicara. Ia adalah panggilan sunyi agar hati bersiap menerima cahaya.
Para ulama sepakat bahwa makna pastinya adalah bagian dari rahasia Allah. Namun justru di situlah letak keindahannya—bahwa Al-Qur’an tidak hanya memberi jawaban, tetapi juga membangun kesadaran.
Dan mungkin, di antara hiruk pikuk dunia, kita memang perlu kembali pada huruf-huruf sederhana itu—yang tak banyak menjelaskan, tetapi justru menggetarkan jiwa.
