Menyingkap Makna Spiritual dalam Tinjauan Ulama Sufi dan Kitab-Kitab Klasik
Di dalam Al-Qur’an, ada huruf-huruf yang berdiri sendiri, terpisah, tanpa penjelasan langsung. Di antaranya adalah “Haa Miim” (حم), dua huruf yang membuka tujuh surah berturut-turut—yang dikenal sebagai Hawamim. Bagi pembaca awam, ia mungkin tampak seperti misteri. Namun bagi para ulama dan ahli tasawuf, di situlah dimulai perjalanan perenungan.
Huruf-huruf terpisah ini dikenal sebagai huruf muqatta’at. Sejak masa sahabat, maknanya telah menjadi ruang diskusi panjang. Sebagian ulama tafsir klasik seperti Imam Ath-Thabari menyatakan bahwa hakikat maknanya adalah rahasia Allah yang tidak sepenuhnya diketahui manusia. Ia termasuk wilayah mutasyabihat—ayat-ayat yang memanggil iman sebelum akal.
Imam Al-Qurthubi dalam tafsirnya menegaskan bahwa huruf-huruf ini menjadi bukti kemukjizatan Al-Qur’an. Allah menantang manusia dengan huruf-huruf yang mereka gunakan sehari-hari, namun tetap tidak mampu menandingi susunan wahyu-Nya. Artinya, Al-Qur’an bukan sekadar kumpulan huruf, tetapi susunan ilahi yang tak tertandingi.
Namun para sufi memandangnya lebih jauh.
Bagi ulama tasawuf seperti Imam Al-Qusyairi dalam Latha’if Al-Isyarat, huruf-huruf ini bukan hanya simbol bahasa, melainkan isyarat ruhani. “Haa Miim” dipandang sebagai rahasia antara Allah dan Rasul-Nya—sebuah komunikasi ilahiah yang tak selalu bisa ditangkap nalar.
Ibnu ‘Arabi bahkan melihat setiap huruf sebagai entitas bercahaya. Dalam Futuhat Al-Makkiyah, ia menjelaskan bahwa huruf memiliki dimensi metafisik. “Haa” dipahami sebagian sufi sebagai isyarat kepada Huwiyyah—ke-Esaan dan kehadiran Allah yang mutlak. Sedangkan “Miim” sering dimaknai sebagai simbol Muhammad, insan kamil, manusia sempurna yang menjadi cermin sifat-sifat ilahi.
Dalam tafsir simbolik, “Haa Miim” menjadi gambaran hubungan antara Yang Maha Tinggi dan manusia yang dimuliakan. Antara langit dan bumi. Antara rahasia dan wahyu.
Oleh: Redaksi Teras Batas
