Bekasi Raya - Kedekatan sejati tidak meniadakan ingatan; ia melahirkannya. Justru karena merasa dekat, hati ingin terus hadir. Mengingat dan memanggil nama-Nya bukan karena Dia jauh, melainkan karena kita yang mudah teralihkan.
Seperti napas. Kita tidak menghirup udara karena udara pergi, tetapi karena hidup membutuhkan kesadaran yang berulang. Mengingat Tuhan adalah napas ruh—bukan tanda jarak, melainkan tanda kehidupan batin.
Ada perbedaan antara kedekatan hakiki dan rasa dekat yang diasumsikan. Rasa bisa menipu; kesadaran menjaga. Dzikir bukan panggilan agar Dia datang, melainkan penyelarasan agar kita hadir. Bukan Tuhan yang didekatkan, melainkan hati yang dirapikan.
Memanggil nama-Nya juga bukan untuk memberi tahu keberadaan-Nya. Ia Maha Hadir. Panggilan itu untuk mengikis lupa, menenangkan pikiran yang riuh, dan menurunkan ego yang sering merasa “sudah sampai”. Dalam tradisi hikmah, yang merasa tidak perlu mengingat justru sedang berada di ambang lupa.
Kedekatan yang matang tidak gaduh. Ia tenang, namun setia. Seperti dua sahabat yang tak perlu banyak kata, tetapi tetap saling menyapa. Menyebut nama-Nya adalah sapaan sunyi—pengakuan bahwa setiap detik adalah pinjaman, setiap langkah adalah amanah.
Maka, jika merasa dekat, ingatlah lebih lembut, bukan lebih jarang. Panggillah nama-Nya bukan dengan teriakan, tetapi dengan kehadiran. Karena mengingat bukan tanda jarak; ia tanda cinta yang terjaga.
