![]() |
| Tradisi ziarah kubur menjadi momentum refleksi diri sebelum memasuki bulan suci Ramadhan. |
Bekasi — Menjelang datangnya bulan suci Ramadhan, sejumlah wilayah di Kabupaten Bekasi masih mempertahankan tradisi lokal yang dikenal sebagai rowahan. Tradisi ini biasanya ditandai dengan doa bersama, tahlilan, hingga ziarah kubur ke makam orang tua dan leluhur.
Di Tarumajaya, Tambun Selatan, hingga Cikarang, warga mulai mendatangi tempat pemakaman umum sejak pekan terakhir bulan Sya’ban. Mereka membersihkan makam, menabur bunga, dan memanjatkan doa sebagai bentuk penghormatan sekaligus refleksi diri.
Rowahan berasal dari kata “arwah”, yang merujuk pada doa yang dikirimkan kepada keluarga yang telah wafat. Tradisi ini menjadi ruang spiritual bagi masyarakat untuk mengingat kematian sekaligus menata hati sebelum memasuki Ramadhan.
“Rowahan bukan sekadar tradisi, tetapi momentum memperbaiki hubungan dengan keluarga, baik yang masih hidup maupun yang sudah mendahului,” ujar salah satu tokoh masyarakat di Tarumajaya.(13/2/2026)
Antara Budaya dan Spiritualitas
Bagi sebagian kalangan, ziarah kubur menjelang Ramadhan bukanlah kewajiban agama, melainkan bagian dari kearifan lokal yang telah berlangsung turun-temurun. Namun secara substansi, ziarah memiliki landasan dalam ajaran Islam sebagai pengingat akan kehidupan akhirat.
Rasulullah SAW dalam hadis riwayat Muslim menganjurkan umatnya untuk berziarah kubur karena dapat mengingatkan pada kematian. Dalam konteks masyarakat Bekasi, nilai tersebut berpadu dengan budaya lokal yang menekankan kebersamaan dan doa kolektif.
Selain aspek spiritual, tradisi rowahan juga memperkuat silaturahmi antarwarga. Kegiatan doa bersama biasanya diikuti dengan makan bersama sederhana sebagai simbol kebersamaan.
Momentum Introspeksi
Jumat terakhir di bulan Sya’ban menjadi puncak kegiatan rowahan di sejumlah wilayah. Warga memanfaatkan waktu tersebut untuk membersihkan makam keluarga sebelum Ramadhan tiba.
Di tengah arus modernisasi dan perubahan gaya hidup, tradisi ini tetap bertahan. Meski sebagian generasi muda mulai jarang terlibat, masih banyak keluarga yang mengajak anak-anak mereka agar mengenal akar budaya dan nilai religius yang diwariskan.
Ramadhan yang tinggal hitungan hari menjadikan rowahan sebagai pintu masuk spiritual. Ia bukan sekadar ritual tahunan, melainkan pengingat bahwa kehidupan dunia bersifat sementara.
Tradisi ini menjadi cermin bahwa masyarakat Bekasi tidak hanya menyambut Ramadhan dengan persiapan lahiriah, tetapi juga dengan upaya membersihkan batin dan memperkuat kesadaran akan hakikat hidup.
