![]() |
| Ilustrasi gambar sumber foto banan |
TerasBatas.com(06/09/2026) – Di bawah langit yang sesekali merona jingga oleh pijar lava, Anak Krakatau berdiri bukan sekadar sebagai tumpukan batu dan abu, melainkan sebagai sebuah mazhar tempat kenyataan ilahi menampakkan dirinya. Di balik gemuruhnya yang menggetarkan dada, ada pesan teologis yang lirih. Bagi mereka yang memiliki ketajaman mata batin, setiap geliat geologis gunung api aktif ini adalah untaian "Kode Alam", lembaran kitab semesta (ayat kauniyah) yang sedang membacakan kisah tentang kefanaan, peringatan, dan kasih sayang Sang Pencipta.
Namun, di tengah modernitas, manusia sering kali terjebak dalam dua ekstrem: mengabaikan tanda-tanda alam karena keangkuhan rasional, atau sebaliknya, terjebak dalam mistisisme buta yang melahirkan kepasrahan fatalistik. Di sinilah kacamata sufistik hadir sebagai jembatan. Tasawuf tidak mengajarkan manusia untuk diam meratapi nasib, melainkan membaca kode alam sebagai alarm ilahi yang menuntut ikhtiar lahiriah yang maksimal dan tawakal batiniah yang total.
Dalam kearifan lokal Nusantara, salah satu kode alam yang paling autentik sebelum bencana adalah turunnya hewan-hewan liar dari puncak gunung. Secara sains, satwa memiliki sensor sensitif terhadap gelombang infrasonik dan perubahan suhu bumi. Namun secara sufistik, pergerakan ini adalah bentuk insting kepatuhan murni kepada Sang Pencipta.
Hewan-hewan tersebut adalah utusan sunyi yang membawa "surat peringatan" dari langit. Ketika monyet, rusa, atau burung-burung mulai menjauh dari kawah, alam sedang berbisik kepada jiwa manusia: “Jika makhluk yang tidak berakal saja patuh pada tanda-tanda keselamatan-Ku, mengapa kalian yang diberi akal justru abai dan menantang bahaya?” Dalam kacamata ini, evakuasi mandiri setelah melihat tanda alam adalah wujud nyata dari menghormati hukum alam (sunnatullah) dan menjaga titipan paling berharga dari Allah: nyawa manusia.
Mengeringnya mata air secara mendadak atau berubahnya pola embusan angin di sekitar lereng adalah kode alam berikutnya. Air adalah simbol ketenangan hidup, sedangkan magma adalah gejolak nafsu bumi. Ketika air surut dan digantikan oleh hawa panas, bumi sedang melakukan "tarikan napas" untuk melepaskan beban berat yang dipendamnya agar kembali suci sebuah visualisasi dari konsep tazkiyatun nafs (penyucian jiwa).
Bagi seorang pejalan spiritual, mengabaikan kode fisik ini dengan alasan "sudah pasrah pada takdir" bukanlah tanda tingginya iman, melainkan bentuk su'ul adab (ketidakpatuhan tata krama) kepada Sang Pencipta. Menyiapkan tas siaga bencana, mematuhi jalur evakuasi, dan merawat kelestarian lingkungan adalah bentuk mitigasi preventif yang bernilai ibadah.
Puncak dari mitigasi sufistik adalah lahirnya jiwa yang tenang (mutmainnah) saat krisis melanda. Ketika sirine peringatan dini tsunami atau erupsi berbunyi, kepanikan massal sering kali menjadi pembunuh yang lebih cepat daripada bencana itu sendiri. Di sinilah konsep zikrullah (mengingat Allah) mengambil peran. Ketenangan batin yang terlatih tidak membuat manusia lumpuh atau diam terpaku. Sebaliknya, zikir menjernihkan pikiran agar manusia bisa mengambil keputusan logis berlari menyelamatkan diri dan menolong sesama dengan kepala tegak dan hati yang terpaut pada-Nya.
Pada akhirnya, membaca kode alam melalui kacamata sufistik meruntuhkan dinding pemisah antara yang sakral dan yang profan. Alat seismograf yang bergetar, peta rawan bencana, dan sirine evakuasi adalah instrumen modern yang menerjemahkan bahasa alam. Memadukan kecanggihan teknologi mitigasi di bumi dengan kedalaman zikir di langit adalah cara terbaik bagi manusia untuk selamat secara fisik dari amukan alam, sekaligus melangkah lebih dekat menuju Pemilik Alam Semesta.(TB)
