![]() |
| Ilustrasi Gambar sumber Banana |
Bekasi,TerasBatas.Com(20/09/2026) — Diskusi mengenai dunia spiritual dan mistisisme di Indonesia seolah tidak pernah kehilangan panggung. Namun, di tengah gempuran fenomena pembongkaran trik sulap berkedok agama di satu sisi, dan maraknya praktik klenik di sisi lain, muncul sebuah sudut pandang visioner yang mendobrak cara berpikir usang, bagaimana jika keajaiban masa lalu sebenarnya telah menjelma menjadi teknologi hari ini?
Jika kita menengok sejarah dakwah Walisongo, khususnya Sunan Kalijaga, pendekatan psikologis dan kultural digunakan secara jenius. Islam tidak ditanamkan dengan menghancurkan keyakinan mistis Nusantara secara frontal, melainkan dengan mengadopsi budayanya. Mantra diubah menjadi bait dzikir, dan tradisi pemujaan digeser menjadi penghambaan kepada Yang Maha Kuasa. Para wali pun dibekali karomah kejadian luar biasa di luar nalar sebagai bukti nyata atas kuasa Allah SWT pada situasi zaman itu.
Namun, zaman telah berganti. Di era digital saat ini, esensi karomah yang dahulu bersifat personal dan situasional, kini telah diwujudkan secara massal dan sistematis oleh Allah SWT melalui isi kepala manusia, yakni sains dan teknologi.
Jika dibedah secara komparatif, apa yang dahulu dianggap sebagai kesaktian mistis kini menjadi realitas sehari-hari yang rasional. Ilmu Rogo Sukmo di mana kesadaran seseorang berpindah tempat melintasi ruang, kini termanifestasi nyata lewat teknologi Video Call. Seseorang di Indonesia bisa melihat dan berinteraksi langsung secara real-time dengan orang di benua Amerika.
Fenomena Telepati atau kemampuan mengirim pesan lewat pikiran kini telah menjadi hal lumrah melalui telepon genggam dan pesan instan. Ilmu melipat bumi atau terbang kini diwakili oleh pesawat komersial dan kereta cepat. Bahkan, konsep "ilmu santet" yang lekat dengan pengiriman material jarak jauh tanpa terlihat, secara logis memiliki kemiripan cara kerja dengan teknologi drone modern.
Pergeseran cara pandang ini dinilai sangat krusial jika diseminasikan ke dalam forum-forum keagamaan, seperti majelis dzikir. Edukasi berbasis "Karomah Modern" ini memiliki urgensi ganda. Pertama, untuk membersihkan niat jamaah agar berdzikir murni untuk mendekatkan diri kepada Tuhan, bukan untuk mencari kesaktian semu. Kedua, sebagai benteng dari pembodohan spiritual oleh oknum-oknum yang memanipulasi trik psikologis demi keuntungan pribadi.
Tantangan terbesar bangsa ini bukan lagi kekurangan hal mistis, melainkan kekaguman yang keliru. Umat sering kali lebih terpesona oleh klaim kesaktian personal seorang dukun ketimbang mengagumi keajaiban penciptaan Allah yang mewujud dalam teknologi.
Padahal, sains adalah karomah fisik, sementara dzikir adalah ruh penjaganya. Tanpa spiritualitas, teknologi "ilmu terbang" (pesawat) hanya akan melahirkan bom, dan "ilmu santet modern" (drone) hanya akan memicu kehancuran. Sudah saatnya peradaban Islam hari ini melihat teknologi sebagai bentuk mukjizat modern yang harus disyukuri dan dimanfaatkan untuk kemaslahatan umat manusia.( Red TB)
