![]() |
| Ilustrasi Ganbar Sumber Foto Banana |
JAKARTA,TerasBatas.com(11/09/2026) — Di tengah dinamika ekonomi global yang tidak menentu, kecemasan finansial sering kali menjadi beban psikologis yang berat bagi masyarakat modern. Menanggapi fenomena tersebut, sebuah kajian teologis menarik mencuat dari dunia akademik. Nadine Khaerany Zahra, mahasiswi Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, membedah hakikat rezeki manusia melalui kacamata epistemologi hukum Islam dan tafsir filosofis terhadap sumpah-sumpah Allah di dalam Al-Qur'an.
Kajian ini menyoroti bahwa ketika Allah SWT bersumpah menggunakan makhluk-mhkluk-Nya seperti fenomena kosmis langit dan bumi atau perputaran waktu, hal tersebut memiliki urgensi logis yang sangat besar. Sumpah Allah (Qasam) secara struktural mantiq berfungsi untuk meruntuhkan keraguan manusia dan memberikan garansi mutlak terhadap jaminan rezeki (rizki) makhluk-Nya di bumi.
Pilar utama teologis ini diekstraksi secara presisi melalui Surat Az-Zariyat ayat 22-23:
وَفِي السَّمَاءِ رِزْقُكُمْ وَمَا تُوعَدُونَ * فَوَرَبِّ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ إِنَّهُ لَحَقٌّ مِّثْلَ مَا أَنَّكُمْ تَنطِقُونَ
“Dan di langit terdapat (sebab-sebab) rezekimu dan apa yang dijanjikan kepadamu. Maka demi Tuhan langit dan bumi, sungguh, (apa yang dijanjikan) itu pasti terjadi seperti perkataan yang kamu ucapkan.”
Dalam analisisnya, Nadine menjelaskan bahwa Allah tidak sekadar menyatakan rezeki itu ada, tetapi menguncinya secara absolut atas nama otoritas diri-Nya: "Maka demi Tuhan langit dan bumi". Kajian ini mengutip pandangan klasik Imam Al-Qurtubi tentang bagaimana otoritas sumpah ini menggetarkan hati manusia. Secara logika, Allah menganalogikan kepastian rezeki dengan kemampuan dasar manusia mengeluarkan suara saat berbicara ("seperti perkataan yang kamu ucapkan"). Artinya, sebagaimana manusia tidak pernah ragu dari mana asal suara saat mereka berbicara, seperti itulah rezeki, ia telah tertakar secara matematis dan tidak akan pernah tertukar.
Selain sumpah makro, riset ini juga membedah instrumen waktu dalam Surat Ad-Duha sebagai simbol fluktuasi ekonomi. Siklus terang (dhuha) dan gelap (malam) melambangkan sunnatullah dalam rezeki manusia yang adakalanya lapang dan adakalanya menyempit. Sumpah waktu ini hadir sebagai penguat psikologis bahwa fase sempitnya rezeki bukanlah tanda keputusasaan, melainkan siklus logis agar manusia memperkuat tawakal dan mengevaluasi ikhtiar nyata. Ditambah dengan analisis Surat At-Tin ("Demi buah Tin dan buah Zaitun"), kajian ini menegaskan bahwa rezeki juga berwujud ekosistem alam fungsional yang menghidupi fisik manusia.
Kajian ilmiah ini menarik kesimpulan penting bahwa sumpah Allah mengenai rezeki di dalam Al-Qur'an ditujukan untuk mendidik dos dimensi kesadaran: akal untuk terus konsisten berikhtiar secara etis di bumi, serta hati untuk tenang secara spiritual karena hasil akhirnya telah dikunci oleh Sumpah Suci Sang Pencipta.(Red TB)
