![]() |
| Ilustrasi gambar sumber foto gemini |
Bekasi,TerasBatas.com(11/09/2026) — Di tengah masifnya penggunaan media sosial hari ini, jempol dan lisan manusia bergerak sangat cepat. Kebebasan mengekspresikan diri yang tidak disandarkan pada kontrol moral sering kali berujung pada penyebaran hoaks, perdebatan kusir, hingga ujaran kebencian di ruang publik.
Menanggapi tantangan etika komunikasi modern ini, petuah klasik dari ulama besar abad ke-11 Masehi, Imam Abu Hamid Al-Ghazali, dalam karya terkenalnya Kitab Bidayatul Hidayah, menghadirkan panduan etika yang sangat tajam dan substantif.
Dalam bab Afatul Lisan, Imam Al-Ghazali secara khusus mengingatkan hakikat dan potensi bahaya dari organ komunikasi manusia:
"Ketahuilah bahwa lisanmu adalah salah satu nikmat Allah yang paling besar bagimu. Namun, ia juga instrumen yang bisa membawamu pada kebaikan tertinggi atau menyeretmu ke dalam kebinasaan jika tidak engkau jaga dengan adab."
Delapan Bahaya Lisan yang Wajib Diwaspadai
Beliau merinci delapan bencana lisan yang sangat relevan dengan dinamika media sosial saat ini:
* Berdusta (Al-Kadzib): Menyampaikan informasi yang tidak sesuai fakta.
* Ingkar Janji (Al-Wa'd al-Khulf): Mudah mengobral janji tanpa komitmen untuk menepatinya.
* Menggunjing (Al-Ghibah): Membicarakan aib orang lain di belakangnya, seperti konten ghibah atau sindiran digital.
* Debat Kusir (Al-Mira'): Berdebat hanya demi memuaskan ego pribadi untuk merasa paling benar.
* Memuji Diri Sendiri (Tazkiyatun Nafs): Menampilkan kesombongan dan pamer pencapaian secara berlebihan.
* Mendoakan Buruk (Al-La'n): Melontarkan caci maki dan sumpah serapah kepada sesama.
* Mengejek dan Hinaan (Al-Istihza'): Memicu perundungan (cyberbullying) lewat candaan yang merendahkan martabat orang lain.
* Bicara Sia-Sia (Kalam Ma La Ya'nih): Membuang energi untuk mengetik atau membicarakan hal-hal yang tidak bermanfaat.
Mengendalikan lisan dan tulisan di ruang digital merupakan bentuk kedewasaan etika. Imam Al-Ghazali mengingatkan bahwa setiap kata yang terucap—maupun tulisan yang terunggah—akan dipertanggungjawabkan secara penuh.
Menjelang akhir pekan ini, narasi dari Kitab Bidayatul Hidayah mengajak masyarakat untuk sejenak bertafakur. Mari jadikan lisan dan aktivitas digital kita sebagai sarana menebar kedamaian serta merajut kebaikan antar sesama.(Red TB)
