![]() |
| Ilustrasi gambar sumber foto banana |
JAKARTA, TERASBATAS.COM (06/09/2026) — Teknologi modern membaca aktivitas gunung berapi lewat alat seismogram. Namun, masyarakat Nusantara punya cara spiritual untuk membaca isyarat alam, salah satunya lewat Hitungan Al-Jumal (Hisab al-Jummal). Metode kuno ini mengubah huruf Arab menjadi nilai angka untuk menyibak pesan rahasia di balik sebuah bencana.
Dalam hitungan ini, kata Krakatau (كركاتو) menghasilkan total nilai 647. Angka ini diperoleh dari penjumlahan nilai huruf Kaf, Ra, Kaf, Alif, Ta, dan Wawu. Menariknya, angka 647 ini beresonansi kuat dengan peristiwa runtuhnya dinding Gunung Anak Krakatau saat tsunami Selat Sunda 2018. Nilai ini serupa dengan petunjuk Surah Al-A'raf ayat 143 tentang hancurnya gunung saat Allah menampakkan keagungan-Nya. Letusan ini menjadi pengingat agar manusia tidak sombong di bumi.
Isyarat angka juga ditemukan pada dua gunung aktif di Pulau Jawa, yaitu Merapi dan Semeru. Gunung Merapi (مرافى) memiliki nilai abjad 331. Angka ini didominasi huruf Fa dan Mim yang melambangkan embusan awan panas (wedhus gembel). Nilai 331 menjadi alarm agar manusia di sekitarnya selalu ingat kepada Tuhan. Sementara Gunung Semeru (سميرو) mengunci angka 316 yang berarti ujian berat. Sebagai pasak bumi Jawa, bergejolaknya Semeru memberi pesan bahwa saat moral manusia goyah, alam akan ikut berguncang.
Rahasia paling mengejutkan muncul saat kita menghitung kata dasar "Al-Jabal" (الجبل) yang berarti gunung. Total nilai kata tersebut adalah 66. Secara matematis, angka 66 ini tepat sama dengan nilai hitungan untuk lafaz Allah (الله). Persamaan angka ini membawa pesan spiritual yang dalam bagi kita: gunung adalah khotbah visual yang nyata dari Tuhan. Ketika gunung meletus, ia bergerak di bawah satu komando absolut, sekaligus menjadi undangan terbuka bagi manusia untuk segera berintrospeksi diri.(Redaksi TB)
