Siklus Abadi " Gerbang Air Mata " Serangan Houthi ke Riyadh dalam Catatan Sejarah Peradaban

Ilustrasi gambar sumber foto banana

BEKASI, TerasBatas.com(20/09/2026) — Situasi keamanan di kawasan Jazirah Arab kembali berada pada titik didih yang mengkhawatirkan. Gelombang serangan lintas batas menggunakan rudal balistik dan pesawat tanpa awak (drone) oleh kelompok Houthi dari Yaman kini secara berani menyasar langsung wilayah Ibu Kota Arab Saudi, Riyadh, serta beberapa infrastruktur energi strategis di Yanbu dan Taif. Pihak pertahanan udara Arab Saudi melaporkan bahwa serangan rudal balistik tersebut berhasil dicegat.

Bagi para sejarawan dunia dan analis geopolitik, krisis berdarah yang memotong urat nadi perdagangan maritim ini sama sekali tidak terjadi di ruang hampa. Peristiwa hari ini merupakan refleksi dari cetak biru (blueprint) sejarah peradaban yang berulang secara presisi, pertempuran memperebutkan pengaruh imperium besar, kutukan geografis, dan perebutan kontrol atas rute niaga internasional.

Berdasarkan literatur sejarah dunia, wilayah Yaman selatan dan pesisir Laut Merah merupakan salah satu panggung konflik tertua di bumi. Pola benturan saat ini mencerminkan dinamika tiga catatan sejarah yang terus berputar melingkar:

1. Reinkarnasi Perang Proksi Klasik Abad Ke-6 (Sasaniyah vs Bizantium)

Garis ketegangan regional yang memosisikan Yaman sebagai medan laga persaingan pengaruh asing bukanlah produk modern. Dokumen sejarah mencatat bahwa pada abad ke-6 Masehi, wilayah Yaman kuno merupakan arena pertempuran berdarah tak berkesudahan antara Kekaisaran Sasaniyah (Persia/Iran kuno) melawan aliansi Kekaisaran Bizantium (Romawi Timur) yang bekerja sama dengan Kerajaan Aksum.

Kala itu, imperium Persia menyokong faksi kesukuan lokal di Yaman guna menumbangkan pengaruh Bizantium demi mengamankan jalur pelayaran komersial di Jazirah Arab selatan. Struktur aliansi kuno ini hampir identik dengan realitas hari ini: aktor lokal di Yaman ditarik masuk ke dalam pusaran perang proksi antara kekuatan besar di kawasan Teluk.

2. Kutukan Geografis Selat Bab el-Mandeb

Perluasan jangkauan militer faksi Houthi hingga ke pesisir barat Yaman dan penguasaan pulau-pulau strategis di dekat Selat Bab el-Mandeb secara otomatis mengunci akses logistik energi dunia. Dalam khazanah bahasa Arab, (Bab el-Mandeb) memiliki makna literal "Gerbang Air Mata". Nama kelam ini lahir dari fakta sejarah maritim, di mana celah sempit tersebut selalu menjadi wilayah perebutan paling berdarah.

Catatan dunia merekam bagaimana ekspedisi militer Dinasti Ptolemaios dari Mesir kuno, taktik blokade laut Kesultanan Utsmaniyah (Ottoman), hingga pendudukan militer oleh Imperium Inggris pada abad ke-19, semuanya bertempur habis-habisan di koordinat yang sama. Motivasi sejarah mereka tidak berubah sejak ribuan tahun lalu: siapa pun yang menggenggam celah sempit ini akan memegang kendali atas detak jantung ekonomi global.

3. Teori Siklus Perang Ibnu Khaldun

Runtuhnya stabilitas dan gencatan senjata yang sempat diupayakan oleh PBB sejak beberapa tahun lalu membuktikan kebenaran teori sosiologi politik klasik yang ditulis oleh sejarawan (Ibnu Khaldun) merumuskan bahwa perdamaian yang didasarkan pada kesepakatan semu tanpa menyelesaikan akar ketimpangan sosiologis di akar rumput hanya akan menjadi masa jeda (relapse cycle) bagi faksi-faksi bertikai untuk menghimpun persenjataan baru.

Catatan internal Yaman menunjukkan bahwa wilayah utara, khususnya basis perbukitan Sa'ada, secara historis telah melewati siklus konflik intermiten yang berulang sejak awal dekade 2000-an. Pola perjanjian yang rapuh, diikuti oleh ledakan perang yang jauh lebih merusak di masa berikutnya, adalah rutinitas sejarah yang terus terjadi di tanah Yaman.

Menanggapi rentetan serangan yang menyasar fasilitas sipil dan energi kerajaan, Menteri Luar Negeri Arab Saudi, mengambil sikap diplomatik yang tegas dalam keterangannya saat melakukan kunjungan resmi ke Moskow:

"Kelompok Houthi telah membuka kotak Pandora. Mereka memilih untuk menggunakan jalur kekerasan setiap kali mendapati diri mereka berada dalam posisi yang sulit, serta lebih memprioritaskan kepentingan sempit kelompoknya sendiri di atas kemaslahatan rakyat Yaman. Jalan menuju opsi diplomasi tidak pernah sepenuhnya tertutup, namun kerajaan Arab Saudi tidak akan pernah ragu dan akan menggunakan segala cara yang ada untuk melindungi kepentingan serta mempertahankan diri dari serangan ini." 

Di pihak berseberangan, juru bicara militer kelompok Houthi, Brigadir Jenderal Yahya Saree, merilis pernyataan balasan dan menegaskan bahwa operasi penyerangan rudal ke ibu kota saingan mereka merupakan hak pertahanan diri: 

"Serangan operasi militer menggunakan rudal balistik ini dilakukan sebagai respons tegas atas upaya kriminal musuh, di mana pasukan koalisi Arab Saudi telah meluncurkan lebih dari 300 serangan udara ke wilayah kami termasuk menyasar ibu kota Sana'a selama sepekan terakhir. Setiap bentuk agresi terhadap negara dan rakyat kami akan selalu berhadapan dengan respons setimpal." 

Realitas konflik di semenanjung Arab saat ini memberikan kesimpulan fundamental bagi peradaban: teknologi militer boleh berevolusi dari ayunan pedang baja di masa lalu menjadi luncuran sistem rudal dan drone nirawak di masa kini. Namun, watak dasar manusia dalam memperebutkan hegemoni kekuasaan dan energi tetap bergerak melingkar di atas cetak biru sejarah yang sama. (Red TB)

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama