Isra Mi’raj dan Tantangan Tafsir di Zaman Informasi

 

KABUPATEN BEKASI — Peringatan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW tidak sekadar menjadi momentum ritual keagamaan, tetapi juga ruang refleksi atas peradaban manusia di tengah derasnya arus informasi. Di era digital yang dipenuhi beragam tafsir dan narasi, makna Isra Mi’raj kembali relevan sebagai penunjuk arah spiritual dan etika sosial.

Hal tersebut disampaikan Ustad Ekrom Maftuhi, Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Bekasi, dalam ceramah peringatan Isra Mi’raj. Menurutnya, peristiwa agung yang dialami Nabi Muhammad SAW bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan perjalanan kesadaran yang mengajarkan keteguhan iman di tengah ujian zaman.

“Isra Mi’raj mengajarkan kita tentang kejernihan menerima wahyu. Hari ini, manusia hidup di tengah banjir informasi yang sering kali bercampur antara kebenaran, opini, bahkan manipulasi,” ujar Ekrom.(16/01/2026) Ia menekankan bahwa umat Islam dituntut memiliki kebijaksanaan dalam menyaring informasi, sebagaimana Nabi menerima perintah salat dengan penuh kepasrahan dan keyakinan.

Dalam konteks peradaban saat ini, Ekrom menilai tantangan terbesar bukan hanya kemajuan teknologi, melainkan cara manusia memaknai dan menafsirkan informasi. Media sosial, kata dia, telah mengubah pola berpikir masyarakat—cepat, reaktif, dan sering kali tanpa proses tabayun yang memadai. Di sinilah nilai Isra Mi’raj menemukan relevansinya: mengajak manusia berhenti sejenak, naik ke ruang kontemplasi, lalu kembali ke bumi dengan tanggung jawab moral.


Sebagai bagian dari PCNU Kabupaten Bekasi, Ekrom juga mengingatkan pentingnya peran ulama dan lembaga keagamaan dalam memberi panduan umat agar tidak tersesat dalam tafsir yang menyesatkan. Nilai salat yang diperintahkan dalam peristiwa Isra Mi’raj, menurutnya, merupakan simbol disiplin spiritual yang membentuk karakter, kejujuran, dan keadilan sosial.

“Salat bukan hanya hubungan vertikal dengan Tuhan, tetapi juga energi moral untuk membangun peradaban yang beradab,” katanya.

Peringatan Isra Mi’raj pun menjadi pengingat bahwa di tengah kebisingan informasi, manusia tetap membutuhkan kompas nilai. Perjalanan Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram ke Sidratul Muntaha lalu kembali ke bumi mengajarkan bahwa spiritualitas sejati harus berdampak pada kehidupan nyata—menjadi cahaya penuntun di zaman yang sarat tafsir dan kepentingan.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama