![]() |
| Ilustrasi sumber Foto Unsplash |
BEKASI, TERASBATAS.COM (17/05/2026) — Misteri lokasi pasti koordinat keraton atau pusat istana Kerajaan Tarumanegara pada abad ke-5 Masehi terus menjadi magnet diskusi yang memikat para sejarawan dan arkeolog lintas negara. Meski bangunan fisik istana yang berbahan material organik seperti kayu dan bambu telah lenyap ditelan waktu, kluster penelitian geografi purba (paleogeografi) kini berhasil mempersempit titik paling mendekati dari pusat pemerintahan legendaris tersebut.
Para ahli epigrafi dan arkeologi internasional sepakat menunjuk koridor barat Kecamatan Tarumajaya, Kabupaten Bekasi khususnya wilayah Desa Pusaka Rakyat dan Desa Sagara Makmur sebagai kawasan yang paling intim menempel dengan titik inti ibu kota kedua Tarumanegara, yakni Sundapura.
Penetapan kawasan Tarumajaya sebagai bagian dari hinterland (penopang utama) inti keraton bertumpu pada bukti epigrafi resmi, yaitu Prasasti Tugu (417 M) yang ditemukan asli tertanam (insitu) di wilayah Tugu, Cilincing. Mengingat teks prasasti beraksara Pallawa tersebut mencatat bahwa aliran sungai buatan (Gomati) mengalir tepat melewati tengah-tengah kompleks istana Raja Purnawarman, maka wilayah Desa Pusaka Rakyat yang berbatasan langsung tanpa sekat geografis dengan Cilincing otomatis menjadi tanah yang paling mendekati lingkaran dalam keraton purba tersebut.
Kredibilitas keberadaan pusat peradaban di pesisir Bekasi ini pun diperkuat oleh sumber filologi internasional, salah satunya lewat naskah kuno Fo-Kuo-Chi (Catatan Kerajaan Buddha) karya Biksu Fa-Hsien (414 M). Dalam catatan perjalanan dunia tersebut, sang musafir Cina merekam perjalanannya saat terdampar selama lima bulan di tanah To-lo-mo (Taruma). Fa-Hsien menggambarkan detail kehidupan sosial ekonomi masyarakat pesisir saat itu yang sangat bergantung pada sektor agraris dan jalur niaga maritim, serta mencatat dominasi kuat kasta Brahmana (Hindu) yang sinkron dengan narasi ritual kurban dalam Prasasti Tugu.
Rekonstruksi lanskap purba melalui kajian geomorfologi pantai utara Jawa Barat ikut memaparkan wajah Tarumajaya 1.600 tahun lalu sebagai kawasan estuari yang sangat dinamis. Desa Sagara Makmur dan sekitarnya di masa puncak kejayaan Tarumanegara diperkirakan berupa teluk landai dengan hutan mangrove lebat yang berfungsi sebagai kompleks pelabuhan maritim luar, tempat kapal-kapal dagang dari India hingga Cina bersandar dengan aman dari amukan ombak Laut Jawa.
Sementara itu, daratan dataran rendah di Desa Pusaka Rakyat kuno awalnya merupakan rawa pasang-surut labil yang rawan banjir rob. Kondisi alam inilah yang memicu sang raja untuk melakukan rekayasa hidrolik raksasa berupa penyodetan Sungai Candrabhaga (Sungai Bekasi) dan Sungai Gomati demi mengeringkan rawa tersebut, hingga akhirnya bertransformasi menjadi pemukiman padat dan lahan pertanian subur yang menopang pangan ibu kota.
Jejak peradaban metropolitan kuno di pesisir utara Bekasi ini diperkuat dengan data ekskavasi arkeologi terhadap Kebudayaan Buni (Buni Culture) di sekitar kawasan tetangga, seperti Babelan. Temuan sisa perhiasan emas murni, rangka manusia purba, hingga pecahan Romano-Indian rouletted pottery (tembikar perdagangan India-Romawi) menegaskan bahwa tanah Bekasi Utara bukan sekadar wilayah satelit modern, melainkan sebuah pusat ekonomi dan politik internasional yang pernah bersinar di jalur sutra maritim dunia.
Eksistensi nama kuno wilayah ini bahkan bertahan hingga ratusan tahun kemudian, sebagaimana tercatat dalam Prasasti Kebantenan (Abad ke-16 M) peninggalan era Pajajaran. Dokumen lima lempengan tembaga beraksara Sunda Kuno tersebut menyebut nama Sundasembawa (Bekasi Kuno) sebagai wilayah suci yang dibebaskan dari pajak oleh Prabu Siliwangi (Sri Baduga Maharaja), menandakan pentingnya kawasan Bekasi dari abad ke abad.
(Red)
