Seni Menata 'Jalan Pulang': Ketika Riset Ilmiah Mengamini Kebijaksanaan Kitab Klasik

Ilustrasi sumber foto unsplash

Bekasi, TerasBatas.Com (16/05/2026) — Manusia modern hari ini dikutuk untuk terus berlari. Sejak belia kita dipaksa masuk dalam pusaran kompetisi: berburu angka, menimbun materi, dan memperebutkan puncak karier. Kita menggenggam dunia begitu kuat, seolah-olah waktu tidak akan pernah habis. Namun di ujung pelarian itu, ironi justru terjadi. Banyak dari kita yang tiba-tiba didera kehampaan, merasa asing dengan diri sendiri, dan terjebak dalam krisis eksistensial yang akut.

Pertanyaan mendasar yang kerap dihindari pun menyeruak: setelah semua ego duniawi itu terpuaskan, ke mana sebenarnya kita akan pergi?

Gelisah massal ini rupanya bukan sekadar urusan batin individu. Berbagai kajian sosiologi dan antropologi budaya kontemporer belakangan ini gencar membedah fase hidup manusia. Menariknya, data-data empiris yang dikumpulkan para peneliti masa kini justru bermuara pada satu kesimpulan yang mengejutkan. Semua temuan ilmiah itu memvalidasi kebenaran mutlak yang telah tertulis di dalam kitab-kitab klasik berabad-abad lampau.

Sains kontemporer dan spiritualitas masa lalu kini sepakat pada satu garis batas: hidup ini bukan lintasan pacu linier untuk menaklukkan dunia, melainkan sebuah perjalanan melingkar yang sakral menuju "jalan pulang".

Peradaban modern telah lama menipu kita dengan sudut pandang yang kaku. Kita dididik untuk memuja masa muda sebagai puncak kejayaan karena fisik yang prima dan produktif. Sebaliknya, masa tua disingkirkan ke sudut sunyi, dianggap sebagai grafik yang menurun, rapuh, dan kehilangan fungsi sosial. Cara pandang mekanis inilah yang menjadi hulu dari ketakutan manusia modern terhadap penuaan dan kematian.

Namun, lembaran kitab klasik Nusantara dan dunia mulai dari teks tasawuf, filsafat Timur, hingga serat piwulang kuno memiliki cara pandang yang jauh lebih jernih. Bagi para leluhur, hidup adalah rotasi yang utuh.

Manusia berangkat dari kesucian dan ketidakberdayaan yang mutlak saat lahir. Ia lalu berjalan melintasi ego kedewasaan, untuk kemudian melambat secara alami, meluruh, dan bersiap kembali ke rahim bumi. Kita datang dalam keadaan bersih, dan mestinya pulang dalam kondisi spiritual yang sama.

Berbagai studi sosiologi modern mengenai indeks kebahagiaan kini mengamini kearifan kuno tersebut. Fakta ilmiah membuktikan bahwa kepuasan hidup di usia senja sama sekali tidak ditentukan oleh seberapa tinggi tumpukan materi atau status sosial yang diraih, melainkan dari seberapa damai dan ikhlas seseorang dalam menerima transisi kepulangan tersebut.

Dalam bentangan "jalan pulang", fase paruh baya menuju lansia adalah momen krusial untuk melakukan detoksifikasi ambisi. Jika paruh pertama kehidupan kita habiskan seluruh energi untuk belajar menggenggam dunia, maka paruh kedua adalah waktu yang tepat untuk mulai melonggarkan genggaman itu secara perlahan.

Teks-teks klasik kuno menyebut laku batin ini sebagai zuhud atau rilo sebuah seni menjaga jarak dengan pernak-pernik dunia agar jiwa tidak terikat pada hal yang fana. Dari kacamata psikologi modern, fenomena ini dikenal sebagai proses pemangkasan emosional (emotional pruning). Secara biologis dan psikologis, manusia di usia ini akan mulai menyaring konflik, membuang ego yang melelahkan, dan mengalihkan fokus demi kedamaian batin.

Ketika ambisi pribadi mulai runtuh, manusia yang sadar dirinya sedang berjalan pulang tidak lagi bernafsu untuk mengeruk keuntungan dari dunia. Fokusnya bergeser secara radikal: bukan lagi tentang apa yang bisa ia ambil, melainkan kebaikan apa yang bisa ia wariskan.

Dalam studi sosial, dorongan alamiah ini disebut sebagai semangat generativitas. Ini adalah fase di mana para tetua tergerak untuk membimbing generasi muda, mentransfer nilai kearifan, dan menjaga harmoni kehidupan tanpa ada hasrat egois untuk mendominasi lagi.

Penyandingan tajam antara sains modern dan kedalaman spiritual teks kuno ini membawa tamparan keras bagi kita yang masih sibuk mengejar fatamorgana dunia. Menjadi tua dan melambat bukanlah sebuah kekalahan atau tanda kelemahan sosial. Ia adalah proses pematangan jiwa yang paling sakral.

Memahami hidup sebagai jalan pulang memaksa manusia modern untuk mengerem ego yang meluap-luap. Kita diingatkan untuk kembali menata prioritas hidup dan belajar untuk selesai dengan urusan diri sendiri sebelum jatah waktu kita di bumi habis.

Sebab pada akhirnya, pencapaian tertinggi seorang manusia bukan terletak pada seberapa riuh tepuk tangan dunia yang ia terima di tengah perjalanan, melainkan pada seberapa tenang, lapang, dan siap hatinya saat melangkah mengetuk pintu rumah Sang Pencipta.

Sumber : Redaksi TerasBatas.com


Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama