Jahliyah Zaman Nabi Bukan Bodoh Intelektual, Melainkan Krisis Moral

Ilustrasi gambar foto unsplash

TerasBatas.Com, Bekasi ( 21/05/2026) – Istilah "Jahiliyah" selama ini kerap disalahartikan secara harfiah sebagai zaman kebodohan total, di mana masyarakat Arab pra-Islam dianggap tidak memiliki peradaban. Namun, tinjauan sejarah mutakhir justru menunjukkan fakta sebaliknya: bangsa Arab saat itu berada di puncak kecerdasan intelektual, sebuah kondisi yang sangat relevan dan menjadi cermin besar bagi masyarakat di era digital saat ini.

Secara historis, masyarakat Arab pra-Islam adalah para maestro retorika, sastra, dan logika. Mereka memiliki daya ingat luar biasa yang mampu menghafal ribuan bait puisi serta silsilah genetika yang rumit. Pasar Ukaz di Mekah kala itu bukan sekadar pusat ekonomi, melainkan "media sosial" fisik tempat gagasan, opini, dan karya sastra terbaik diadu di ruang publik.Lantas, mengapa fase tersebut dinamakan Jahiliyah?Akar kata Jahl dalam konteks sosiologis Arab sebenarnya tidak merujuk pada ketiadaan ilmu pengetahuan (kebodohan otak), melainkan pada ketidakmampuan mengendalikan emosi, keangkuhan, serta hilangnya kompas moral (kebodohan watak).

Di balik kecanggihan sastra dan kecerdasan logika mereka, sistem sosial justru dikuasai oleh kegelapan etika. Praktik dehumanisasi seperti penguburan bayi perempuan demi gengsi sosial, eksploitasi ekonomi lewat riba, perbudakan, hingga perang antarsuku akibat ego kelompok menjadi makanan sehari-hari. Hukum rimba menjadi panglima: siapa yang kuat secara modal dan kuasa, dialah yang menentukan kebenaran.

Kehadiran Nabi Muhammad SAW dengan risalah Islam pun tidak datang untuk mengajari mereka membaca atau menulis dari nol. Melainkan, hadir sebagai regulator moral untuk mengarahkan potensi intelektual yang masif tersebut agar berjalan di atas rel kemanusiaan. Hal ini ditegaskan dalam misi utama beliau: "Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan akhlak.

Menyadur Jahiliyah ke Era Digital.

Jika ditarik ke konteks hari ini, dunia digital mencerminkan anomali yang serupa dengan masa Jahiliyah. Manusia modern abad ke-21 memiliki akses informasi tanpa batas, kecerdasan buatan (AI) yang super canggih, serta algoritma yang mampu melipatgandakan pengetahuan dalam hitungan detik. Secara intelektual, manusia hari ini berada di titik tertinggi dalam sejarah peradaban.

Namun, kelimpahan ilmu ini sering kali berjalan beriringan dengan kekosongan jiwa. Ruang digital kita hari ini kerap menjadi panggung "Jahiliyah Gaya Baru".

Kecerdasan teknologi justru digunakan untuk memproduksi hoaks yang merusak tatanan sosial, melakukan pembunuhan karakter (cyberbullying), mengeksploitasi sesama demi konten dan algoritma, hingga memicu polarisasi ekstrem akibat ego kelompok digital (ekosistem echo chamber). Kita sangat pintar secara digital, namun sering kali sangat primitif secara etika berjejaring.

Melalui redefinisi ini, sejarah mengingatkan kita bahwa kecanggihan teknologi dan tingginya IQ tanpa dibarengi dengan kematangan moralitas hanya akan melahirkan peradaban yang merusak. Pintar saja tidak pernah cukup; peradaban digital yang berkelanjutan hanya bisa tegak jika kecerdasan buatan dipandu oleh kecerdasan akhlak. (TB/Red)

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama