Membaca Darah di Atas Tanah: Kurban Sapi, Kambing, dan Kafarat Bumi Sepanjang Jalan Tasawuf

Ilustrasi foto sumber unsplash

Bekasi,TerasBatas.com(16/05/2026) — Di bawah langit yang melantunkan takbir, tanah-tanah basah kembali mengecap aliran darah. Saban tahun, Iduladha hadir merawat ingatan kita tentang sebilah pisau, kepasrahan seorang anak, dan keteguhan seorang ayah. Namun, jika ibadah ini melulu diukur dari bobot daging yang ditimbang atau jumlah kupon yang dibagikan, kita mungkin sedang menyederhanakan sebuah peristiwa metafisika yang teramat agung. Bagi kaum sufi, lembu yang rebah dan kambing yang terkapar bukan sekadar ritual jagal tahunan; mereka adalah sebuah argumen eksistensial, sebuah kafarat (penebusan) atas luka-luka bumi yang diakibatkan oleh sepasang kaki manusia.

Manusia berjalan di atas bumi dengan takabur. Kita, yang diciptakan dari segumpal tanah, justru kerap menjadi makhluk yang paling giat merusak rumah asal kita sendiri. Ketamakan merobek dada bumi, dan egoisme mengeruk isi perutnya tanpa jeda. Di sinilah tasawuf meletakkan pisau kurbannya: sebagai penebusan utang ekologis sekaligus spiritual. Aliran darah hewan ke bumi adalah simbolisasi pengembalian hak alam, sebuah momentum di mana manusia dipaksa bertekuk lutut dan mengakui bahwa daulat tertinggi bukanlah miliknya, melainkan milik Sang Khaliq.

Secara argumentatif, tasawuf membelah makna kurban menjadi dua kamar cermin: sapi dan kambing. Sapi, dengan tubuhnya yang tambun, geraknya yang lamban, dan syahwat perutnya yang tak pernah pudar, adalah metafora sempurna bagi nafsu Bahimiyyah. Ini adalah sifat kebinatangan yang condong pada kemewahan materi, penumpukan harta, dan kenyamanan duniawi yang melenakan.

Ketika syariat membolehkan tujuh orang berpatungan untuk seekor sapi, ada argumen batin yang luar biasa di sana. Tujuh kepala, dengan tujuh isi dada yang berbeda, dipaksa melebur dalam satu niat. Ini adalah ikhtiar meruntuhkan menara ego kolektif dan kesombongan kelas sosial. Menyembelih sapi dalam pandangan tasawuf adalah tindakan radikal untuk memotong keterikatan hati pada status dan kepemilikan. Kita tidak sedang menyembelih seekor hewan; kita sedang meruntuhkan berhala kemapanan yang selama ini kita sembah dalam sunyi.

Sebaliknya, kambing atau domba mengusung narasi yang berbeda. Tubuhnya ringkih, namun tabiatnya lincah, keras kepala, dan kerap ingin menang sendiri. Ia adalah simbol dari nafsu Sabu'iyyah keliaran ego individu, keangkuhan intelektual, dan watak merasa paling benar yang sering memicu konflik di atas bumi.

Syariat menggariskan satu kambing untuk satu jiwa. Secara naratif, ini menggambarkan kesendirian manusia saat kelak menghadap Tuhannya. Di atas altar kurban, kambing itu adalah diri kita sendiri. Menyembelihnya berarti menjinakkan keliaran ego personal, mematikan sifat merasa lebih mulia dari liyan. Jika sapi adalah tentang merubuhkan berhala harta bersama, maka kambing adalah tentang menghancurkan berhala "keakuan" yang kerap mengeras di dalam dada.

Pada akhirnya, argumen tasawuf selalu bermuara pada satu kesadaran: Allah tidak butuh setetes pun darah atau sekerat pun daging. Bumi pun tidak menjadi suci hanya karena disirami darah hewan. Yang sampai kepada-Nya, dan yang mampu menyembuhkan luka bumi, adalah ketakwaan yang lahir dari hati yang telah jernih (tashfiyatul qalb).

Iduladha adalah undangan terbuka bagi manusia untuk bercermin. Jika setelah kurban berlalu, ketamakan kita terhadap dunia tetap menyala dan ego kita tetap mencakar sesama, maka sebilah pisau kita barangkali hanya menyentuh leher hewan, namun gagal menyentuh leher kebinatangan di dalam diri kita. Bumi hari ini tidak kekurangan daging, ia hanya sedang merindukan manusia-manusia yang tahu diri, yang berjalan di atas permukaannya dengan kelembutan seorang hamba yang telah selesai dengan egonya sendiri.

Sumber : TB


Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama