Bekasi Raya - Berbeda dari para sufi yang menempuh jalan simbolik dan metaforis, Ibnu Rusyd menapaki perjalanan menuju “langit” dengan tangga akal. Bagi Ibnu Rusyd, langit bukanlah ruang metafisik yang ditempuh dengan ekstase, melainkan puncak kesempurnaan intelektual—saat akal manusia berfungsi selaras dengan kebenaran.
Dalam karya monumentalnya Fasl al-Maqal, Ibnu Rusyd menegaskan bahwa akal dan wahyu tidak pernah bertentangan. Jika tampak bertentangan, maka yang keliru bukan wahyunya, melainkan cara memahami keduanya. Dari sini, perjalanan ke “langit” dimulai: dengan disiplin berpikir, bukan dengan menanggalkan rasio.
Ibnu Rusyd memandang bahwa manusia dianugerahi akal bukan sebagai hiasan, melainkan sebagai amanah. Akal adalah alat untuk membaca tanda-tanda Tuhan di alam dan dalam teks wahyu. Maka, menaiki “langit kesadaran” berarti mengaktifkan akal hingga mencapai pemahaman yang utuh, bukan berhenti pada kesan lahiriah.
Dalam Tahafut al-Tahafut, Ibnu Rusyd mengkritik sikap yang menutup pintu filsafat atas nama agama. Menurutnya, menolak filsafat justru merendahkan kemuliaan wahyu, karena wahyu sendiri memerintahkan manusia untuk berpikir, merenung, dan mengambil pelajaran. Di sinilah letak “tangga” ala Ibnu Rusyd: penalaran yang tertib, argumentasi yang jujur, dan keberanian intelektual.
Ibnu Rusyd membagi manusia berdasarkan kapasitas pemahamannya. Ada yang cukup dengan pemahaman tekstual, ada yang memerlukan argumentasi rasional, dan ada pula yang mampu menembus makna mendalam melalui demonstrasi intelektual (burhan). Perjalanan ke “langit” tidak seragam—setiap orang menapaki tangganya masing-masing sesuai kemampuan akalnya. Namun tujuannya satu: kebenaran.
Bagi Ibnu Rusyd, puncak perjalanan intelektual adalah keselarasan antara akal manusia dan tatanan kosmos. Alam semesta dipahami sebagai sistem yang rasional dan teratur. Ketika akal manusia memahami keteraturan ini, ia sedang bergerak naik—bukan secara fisik, tetapi secara epistemik. Inilah “mi‘raj” versi filsafat: kenaikan derajat pengetahuan.
Namun, Ibnu Rusyd tidak menafikan dimensi etika. Dalam Bidayat al-Mujtahid, ia menunjukkan bahwa hukum dan moral adalah buah dari pemahaman rasional terhadap tujuan syariat (maqashid). Akal yang naik tanpa akhlak akan tersesat; sebaliknya, akhlak tanpa akal akan rapuh. Maka perjalanan ke langit kesadaran harus ditopang oleh keadilan, kejujuran, dan tanggung jawab sosial.
Jika para sufi berbicara tentang cahaya batin, Ibnu Rusyd berbicara tentang kejernihan akal. Jika mereka menekankan pelepasan ego, Ibnu Rusyd menekankan pembersihan kesalahan berpikir. Keduanya bertemu pada satu titik: manusia harus melampaui keterbatasannya. Bedanya, Ibnu Rusyd memilih jalan rasionalitas yang rendah hati.
Dalam konteks hari ini, pemikiran Ibnu Rusyd terasa relevan. Di tengah banjir informasi dan klaim kebenaran, “perjalanan ke langit” ala Ibnu Rusyd mengajak manusia untuk memeriksa argumen, menimbang bukti, dan menolak fanatisme buta. Langit kesadaran tidak dicapai dengan teriakan, tetapi dengan ketekunan berpikir.
Akhirnya, Ibnu Rusyd mengajarkan bahwa tangga menuju langit tidak dibangun dari ilusi, melainkan dari pengetahuan yang diuji dan akal yang jujur. Semakin jernih akal bekerja, semakin dekat manusia pada kebenaran. Dan ketika akal tunduk pada kebenaran, di situlah manusia mencapai ketinggian yang sesungguhnya—bukan di atas bumi, tetapi di atas kebingungan dirinya sendiri.

