Bekasi Raya - Bekasi terus bergerak. Kawasan industri tumbuh, lalu lintas semakin padat, dan ritme hidup kian cepat. Di tengah perubahan yang tak selalu memberi jeda itu, sebagian masyarakat memilih mencari ketenangan bukan dengan menjauh dari kehidupan, melainkan dengan menata batin agar tetap jernih. Salah satu jalan yang ditempuh adalah tradisi Syattariyah, sebuah laku ruhani yang menekankan kesadaran dan keseimbangan.
Dalam jalan Syattariyah, wirid tidak diposisikan sebagai beban ritual yang memberatkan. Ia dipahami sebagai kesadaran yang mengalir, menyertai nafas, pikiran, dan tindakan sehari-hari. Dzikir dijaga bukan melalui suara yang keras atau jumlah bacaan yang dikejar, melainkan melalui kehadiran hati. Bagi para pengamalnya, wirid adalah cara untuk tetap hadir sepenuhnya dalam setiap aktivitas, tanpa tercerabut dari ingatan kepada Tuhan.
Pendekatan ini terasa relevan bagi masyarakat Bekasi yang hidup di persimpangan tradisi dan modernitas. Syattariyah tidak menuntut pengasingan diri. Ia justru mengajarkan bagaimana seseorang tetap bekerja, berkeluarga, dan bermasyarakat, sambil menjaga batin agar tidak larut dalam kegelisahan dan ambisi yang berlebihan.
Dalam ajarannya, keseimbangan antara syariat, tarekat, dan hakikat menjadi fondasi utama. Syariat menjaga keteraturan lahir, tarekat melatih disiplin batin, sementara hakikat mengarahkan tujuan hidup agar tidak berhenti pada rutinitas kosong. Wirid berperan sebagai jembatan yang menghubungkan ketiganya—membantu seseorang membaca dirinya sendiri dengan jujur.
Melalui wirid yang dijaga secara konsisten, seorang penempuh jalan Syattariyah diajak untuk menyadari perubahan-perubahan kecil dalam dirinya: niat yang mulai menyimpang, emosi yang mudah tersulut, atau keinginan yang perlahan melampaui batas. Kesadaran ini tidak dimaksudkan untuk menghakimi diri, melainkan untuk mengoreksi langkah sebelum terlambat. Dari proses itulah tumbuh ketajaman batin yang halus namun kokoh—ketajaman untuk membedakan mana yang perlu dikejar dan mana yang sebaiknya dilepaskan.
Ketajaman batin dalam Syattariyah tidak dicari sebagai karomah yang dipamerkan. Ia hadir sebagai buah dari disiplin dan kesetiaan menjaga wirid. Para guru jalan ini sering menekankan bahwa kejernihan hati lebih bernilai daripada pengalaman batin yang sensasional. Dalam kehidupan sehari-hari, kejernihan itu tampak dalam sikap yang lebih sabar, keputusan yang lebih tenang, dan hubungan sosial yang lebih tertata.
Hikmah yang diwariskan jalan Syattariyah terasa sederhana namun mendalam: hidup menjadi lebih ringan ketika hati jernih. Wirid bukan pelarian dari dunia, tetapi kompas yang membantu seseorang berjalan lurus di tengah kesibukan. Ketika arah batin terjaga, perubahan tidak lagi menakutkan, melainkan menjadi bagian dari perjalanan yang disikapi dengan kesadaran.
Di tengah Bekasi yang terus berkembang, jalan Syattariyah menawarkan pesan yang relevan bagi siapa pun: bahwa ketenangan tidak selalu ditemukan dengan memperlambat dunia, tetapi dengan menata hati agar tidak terseret oleh derasnya arus kehidupan.
