Bekasi Raya - Al-Qur’an pernah menghadirkan sebuah perumpamaan yang menggugah nurani manusia lintas zaman. Dalam Surah Al-Hasyr ayat 21, Allah berfirman bahwa sekiranya Al-Qur’an diturunkan kepada sebuah gunung, niscaya gunung itu akan tunduk dan terbelah karena takut kepada Allah. Ayat ini, sejak berabad-abad lalu, telah menjadi bahan renungan mendalam para ulama klasik.
Ibnu Katsir, dalam tafsirnya, menjelaskan bahwa gunung dipilih bukan tanpa alasan. Gunung adalah simbol kekokohan, keteguhan, dan kekerasan. Namun, kata Ibnu Katsir, jika makhluk sekeras gunung saja tidak mampu menanggung beban wahyu, maka manusia yang hatinya tidak tersentuh oleh Al-Qur’an sesungguhnya berada dalam kondisi yang mengkhawatirkan. Bukan karena Al-Qur’an kurang kuat, melainkan karena hati manusia yang tertutup.
Pendapat senada disampaikan oleh Imam Al-Qurthubi. Ia menegaskan bahwa ayat ini adalah teguran halus namun tajam bagi manusia. Menurutnya, Al-Qur’an diturunkan bukan sekadar untuk dibaca, tetapi untuk menggetarkan hati dan membentuk sikap hidup. Jika hati tetap keras setelah mendengar ayat-ayat Allah, maka problemnya bukan pada wahyu, melainkan pada kesiapan batin penerimanya.
Sementara itu, Fakhruddin Ar-Razi memandang ayat ini dari sudut psikologis dan spiritual. Dalam tafsirnya, ia menyebut bahwa perumpamaan gunung adalah cermin bagi kesombongan manusia. Gunung tidak memiliki akal, tidak memiliki kehendak, namun ia digambarkan tunduk karena rasa takut kepada Allah. Sedangkan manusia, dengan segala kelebihan akalnya, justru kerap menolak tunduk karena terhalang oleh ambisi, kekuasaan, dan rasa paling benar.
Bagi Imam Al-Ghazali, makna ayat ini berkaitan erat dengan penyakit hati. Dalam berbagai karyanya, Al-Ghazali menegaskan bahwa kerasnya hati adalah akibat dari cinta berlebihan pada dunia. Al-Qur’an, menurutnya, hanya akan bekerja secara efektif pada hati yang bersih dari kesombongan. Ketika hati dipenuhi kepentingan dan hawa nafsu, maka ayat-ayat yang seharusnya melembutkan justru hanya lewat sebagai suara.
Para ulama klasik sepakat bahwa ayat tentang gunung bukanlah gambaran fisik semata, melainkan peringatan moral. Al-Qur’an adalah amanah besar. Ia menuntut kejujuran dalam berbicara, keadilan dalam memutuskan, dan kerendahan hati dalam memimpin. Ketika amanah itu diabaikan, maka yang hancur bukan gunung, melainkan tatanan kehidupan manusia itu sendiri.
Dalam konteks kehidupan hari ini, hikmah ini terasa semakin relevan. Banyak manusia berdiri di atas “gunung-gunung” baru: jabatan, kekuasaan, harta, dan pengaruh. Semua tampak kokoh dan sulit digoyahkan. Namun para ulama mengingatkan, kekokohan sejati bukan pada posisi, melainkan pada ketundukan kepada kebenaran. Tanpa itu, gunung-gunung duniawi akan runtuh oleh waktunya sendiri.
Al-Qur’an tidak memaksa, tetapi mengajak untuk berpikir dan merenung. Ia tidak menghancurkan gunung, melainkan membuka kesadaran manusia. Sebab tujuan wahyu bukan menakut-nakuti, melainkan menyelamatkan—dari kesombongan, dari kezaliman, dan dari hati yang membatu.
Pada akhirnya, pesan para ulama klasik itu bermuara pada satu hikmah sederhana namun mendalam:
jika gunung saja bisa tunduk kepada Al-Qur’an, maka manusia seharusnya lebih pantas untuk merendahkan hati. Bukan karena takut semata, tetapi karena sadar bahwa hidup adalah amanah, dan Al-Qur’an adalah petunjuk yang diturunkan agar amanah itu tidak disia-siakan.

