![]() |
| Memaknai keheningan dzikir sholawat nariyah di bulan suci ramadhan |
BEKASI – TerasBatas.com — Di banyak majelis dzikir dan pesantren, khataman Sholawat Nariyah menjadi salah satu amalan yang menghidupkan malam-malam Ramadhan. Lantunan sholawat menggema, berulang-ulang dibaca dalam jumlah besar, menghadirkan suasana khusyuk yang sarat harap dan doa.
Sholawat Nariyah, yang dikenal juga dengan sebutan Sholawat Tafrijiyah, berisi permohonan agar Allah melapangkan kesulitan, menghilangkan kesempitan, serta menurunkan pertolongan melalui wasilah kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW. Di bulan Ramadhan—bulan turunnya Al-Qur’an dan bulan pengampunan—khataman sholawat ini memperoleh makna yang lebih dalam.
Secara spiritual, memperbanyak sholawat adalah bentuk ittiba’ (mengikuti perintah Allah) sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an bahwa Allah dan malaikat-Nya bershalawat kepada Nabi, dan orang beriman diperintahkan untuk bershalawat kepadanya. Ramadhan menjadi momentum ideal untuk memperbanyak sholawat karena setiap amal dilipatgandakan pahalanya.
Dalam tradisi ulama tasawuf, sholawat bukan sekadar bacaan lisan, tetapi jalan penyucian hati. Imam Al-Qusyairi dalam Risalah Qusyairiyah menjelaskan bahwa dzikir dan sholawat adalah sarana membersihkan qalb dari kekeruhan dunia. Sementara sebagian ulama menyebutkan bahwa memperbanyak sholawat membuka pintu ketenangan batin, karena ia menghubungkan hati dengan sumber akhlak mulia.
Khataman Sholawat Nariyah di bulan Ramadhan juga memiliki dimensi sosial. Ia bukan ibadah individual, melainkan kolektif. Umat duduk bersama, menyamakan niat, menyatukan suara, dan menyelaraskan harapan. Dalam suasana kebersamaan itu, lahir solidaritas ruhani—sebuah energi spiritual yang memperkuat ukhuwah.
Secara historis, tradisi khataman sholawat berkembang di dunia Islam sebagai bentuk doa bersama menghadapi ujian besar—baik wabah, kesulitan ekonomi, maupun krisis sosial. Di Ramadhan, doa kolektif ini menjadi semakin relevan: umat memohon keselamatan pribadi sekaligus keberkahan untuk masyarakat luas.
Lebih jauh, makna terdalam dari khataman Sholawat Nariyah bukanlah pada jumlah hitungan, melainkan pada kehadiran hati. Bacaan yang diulang ribuan kali sejatinya adalah latihan kesadaran: mengingat Nabi, meneladani akhlaknya, dan memohon agar kehidupan dibimbing dalam cahaya kenabian.
Di tengah kehidupan modern yang serba cepat, Ramadhan menghadirkan jeda. Dan dalam jeda itu, khataman sholawat menjadi ruang perenungan. Ia mengajarkan bahwa kekuatan tidak selalu lahir dari keramaian dunia, tetapi dari ketekunan hati yang terus bersambung kepada Allah dan Rasul-Nya.
Ramadhan pada akhirnya bukan hanya bulan menahan lapar dan dahaga, tetapi bulan menyalakan cinta. Dan khataman Sholawat Nariyah menjadi salah satu nyala kecil yang menjaga api cinta itu tetap hidup—di hati, di keluarga, dan di tengah masyarakat.

