Menjaga Lisan Menjelang Ramadan, Pesan Moral Islam Menguat di Kabupaten Bekasi


KABUPATEN BEKASI — Menjelang datangnya bulan suci Ramadan, pesan tentang pentingnya menjaga lisan kembali menguat di tengah masyarakat Kabupaten Bekasi. Sebuah ungkapan hikmah berbahasa Arab, “Idza tammal ‘aqlu qollal kalam”—apabila akal seseorang telah sempurna, maka sedikitlah bicaranya—kian sering dibagikan sebagai pengingat etika bermuamalah, baik di ruang sosial maupun media digital.

Pesan tersebut sejalan dengan ajaran Islam yang menempatkan lisan sebagai cerminan keimanan dan kedewasaan berpikir. Rasulullah ﷺ bersabda, “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam” (HR. Bukhari dan Muslim). Hadis ini menjadi rujukan utama dalam menata etika berbicara, khususnya menjelang Ramadan.

Nilai serupa juga ditegaskan oleh para auliya. Imam Al-Ghazali menyebut, “Keselamatan manusia terletak pada penjagaan lisannya”, sebagaimana diuraikan dalam Ihya’ ‘Ulum al-Din. Menurut Al-Ghazali, banyak kerusakan akhlak berawal dari ucapan yang tidak dikendalikan oleh akal dan hati.

Sementara itu, Ibnu ‘Atha’illah as-Sakandari, seorang sufi besar, mengingatkan, “Ucapan yang keluar dari hati akan sampai ke hati, dan ucapan yang keluar dari lisan semata tidak akan melampaui telinga.” Pesan ini menekankan pentingnya kejujuran batin dalam setiap kata yang diucapkan.

Dalam khazanah tasawuf, Syaikh Abdul Qadir al-Jailani juga menasihati murid-muridnya agar tidak tergesa-gesa berbicara. Ia menyebut, “Diam adalah keselamatan, dan sedikit bicara adalah tanda orang yang diberi hikmah.” Sikap ini dipandang sebagai bentuk pengendalian diri dan kematangan spiritual.

Sejumlah tokoh agama di Kabupaten Bekasi menilai, ajaran para auliya tersebut relevan dengan kondisi sosial hari ini. Di tengah intensitas komunikasi yang tinggi, terutama di media sosial, menjaga lisan menjadi bagian dari ibadah sosial yang kerap terabaikan.

Ramadan, menurut mereka, bukan hanya latihan menahan lapar dan dahaga, tetapi juga latihan mengendalikan ucapan, emosi, dan sikap. Dengan menjaga lisan, masyarakat diharapkan mampu memperkuat persaudaraan, meredam konflik, dan menghadirkan ketenangan sosial.

Pesan para nabi dan auliya itu akhirnya menjadi pengingat bersama bahwa menyambut Ramadan tidak cukup dengan persiapan ritual semata. Ia menuntut kesiapan batin—termasuk kesanggupan untuk berkata seperlunya, diam bila perlu, dan menebarkan kebaikan melalui ucapan yang bijaksana.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama