![]() |
| Fotret petani diladang bertani merawat keberlangsungan generasi masa depan bangsa |
BEKASI — TerasBatas.com — Kabupaten Bekasi tumbuh cepat. Industri berkembang, kawasan hunian meluas, dan infrastruktur terus dibangun. Namun di balik geliat ekonomi itu, hamparan sawah yang dulu menjadi identitas daerah perlahan menyusut.
Pertumbuhan memang membawa harapan. Tetapi bagi sebagian warga di wilayah utara dan timur Bekasi, perubahan lanskap juga menghadirkan kekhawatiran: akankah sawah yang tersisa mampu bertahan di tengah laju betonisasi?
Di Kecamatan Sukawangi, seorang tokoh masyarakat setempat menuturkan bahwa sawah bukan sekadar sumber produksi padi.
“Di sini sawah itu bukan hanya soal panen. Itu sumber kehidupan. Kalau sawah habis, bukan cuma petani yang kehilangan, lingkungan juga berubah,” ujarnya.(17/2/2026)
Wilayah Sukawangi masih dikenal sebagai salah satu kawasan pertanian yang tersisa. Namun tekanan alih fungsi lahan semakin terasa.
Hal serupa disampaikan warga Sukatani, yang melihat perubahan terjadi begitu cepat dalam satu dekade terakhir.
“Anak-anak muda sekarang lebih banyak bekerja di pabrik. Sawah makin sedikit. Kalau tidak dijaga, lama-lama tinggal cerita,” kata seorang perangkat desa.
Sementara itu, di Cibitung, yang menjadi episentrum industri, kontras antara kawasan pabrik dan lahan pertanian tampak jelas. Seorang tokoh pemuda setempat menilai keseimbangan harus menjadi prioritas.
“Industri penting untuk ekonomi, tapi lahan pertanian juga penting untuk ketahanan pangan. Pemerintah harus tegas melindungi yang tersisa,” ujarnya.
Di wilayah pesisir seperti Babelan, kekhawatiran berbeda muncul. Selain penyusutan lahan, perubahan fungsi tanah dinilai berdampak pada tata air dan potensi banjir.
“Sawah itu membantu menyerap air. Kalau semua jadi beton, dampaknya ke mana-mana,” ungkap seorang warga setempat.
Antara Pertumbuhan dan Keberlanjutan
Kabupaten Bekasi memiliki kekuatan ekonomi besar. Namun pertumbuhan tanpa keseimbangan berisiko menggerus fondasi ekologis dan sosial.
Secara regulasi, perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B) telah menjadi kebijakan nasional. Tantangannya adalah konsistensi implementasi di tingkat daerah, khususnya dalam penetapan dan revisi tata ruang.
Menjaga sawah bukan berarti menolak pembangunan. Ia adalah upaya memastikan bahwa pembangunan tetap berpijak pada keberlanjutan.
Bekasi dapat menjadi contoh daerah industri yang tetap menjaga basis agrarisnya. Kawasan industri bisa berkembang, tetapi zona pertanian strategis harus dilindungi dengan tegas dan konsisten.
Pilihan Kebijakan, Pilihan Masa Depan
Keputusan mempertahankan lahan sawah adalah keputusan jangka panjang. Ia menyangkut ketahanan pangan, keseimbangan lingkungan, dan ruang hidup generasi berikutnya.
Suara dari Sukawangi, Sukatani, Cibitung, hingga Babelan menunjukkan satu hal yang sama: masyarakat tidak menolak kemajuan, tetapi berharap kemajuan tidak menghapus akar.
Sawah mungkin tampak sederhana dibanding gedung tinggi.Namun, dari sanalah kehidupan bermula, menjaga sawah hari ini bukan sekadar menjaga lahan, melainkan menjaga arah masa depan Kabupaten Bekasi.
