![]() |
| Ilustrasi |
BEKASI – TerasBatas.com — Ramadhan dan buah kurma seperti dua hal yang tak terpisahkan. Setiap memasuki bulan suci, kurma menjadi hidangan yang hampir selalu hadir di meja berbuka umat Muslim.
Tradisi mengawali berbuka dengan kurma bukan sekadar kebiasaan turun-temurun, melainkan memiliki landasan dalam sunnah Rasulullah SAW. Dalam berbagai riwayat disebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW menganjurkan berbuka dengan kurma sebelum menunaikan salat Maghrib.
Selain nilai spiritualnya, kurma juga memiliki manfaat kesehatan. Buah yang berasal dari kawasan Timur Tengah ini kaya akan gula alami, serat, serta mineral seperti kalium dan magnesium. Kandungan tersebut membantu mengembalikan energi tubuh secara cepat setelah seharian berpuasa.
Di Indonesia, permintaan kurma biasanya meningkat signifikan menjelang Ramadhan. Berbagai jenis kurma seperti Ajwa, Sukari, hingga Medjool banyak dijajakan di pasar tradisional maupun pusat perbelanjaan modern. Pedagang musiman pun bermunculan memanfaatkan momen tahunan ini.
Bagi sebagian keluarga, menyajikan kurma saat berbuka menjadi simbol kesederhanaan sekaligus keberkahan. Tidak harus dalam jumlah banyak, cukup beberapa butir sebagai pembuka sebelum menikmati hidangan utama.
Ramadhan pada akhirnya bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi juga tentang menjaga tradisi yang sarat makna. Dan di antara tradisi itu, kurma selalu menjadi pengingat akan sunnah, kesehatan, serta nilai kebersamaan.

