![]() |
| Ilustrasi gambar |
BEKASI – TerasBatas.com, Memasuki usia ke-29 tahun, Kota Bekasi dinilai telah mengalami perubahan besar dari sekadar kota penyangga Jakarta menjadi kawasan urban yang berkembang pesat. Pertumbuhan sektor industri, jasa, hingga kawasan hunian menjadikan Bekasi sebagai salah satu pusat aktivitas ekonomi di wilayah penyangga ibu kota.
Namun di balik perkembangan tersebut, berbagai persoalan perkotaan masih menjadi perhatian serius masyarakat. Kemacetan lalu lintas, persoalan banjir saat musim hujan, hingga pemerataan kesejahteraan warga menjadi tantangan yang perlu dijawab oleh pemerintah daerah.
Ketua LSM LIRA Indonesia Kota Bekasi, Abudin, menilai bahwa momentum hari jadi Kota Bekasi ke-29 seharusnya tidak hanya menjadi perayaan seremonial, tetapi juga menjadi refleksi arah pembangunan kota ke depan.
Menurut Abudin, Bekasi memiliki potensi besar untuk berkembang menjadi kota modern yang tidak hanya maju secara ekonomi, tetapi juga nyaman dan berkelanjutan bagi masyarakat.
“Bekasi sudah bukan sekadar kota satelit Jakarta. Perkembangannya sangat pesat sebagai pusat industri, jasa, dan kawasan hunian. Namun pertumbuhan ini harus diimbangi dengan kebijakan pembangunan yang terarah agar kualitas hidup masyarakat ikut meningkat,” ujar Abudin dalam keterangannya.
Ia menilai terdapat tiga pilar penting yang harus menjadi perhatian dalam pembangunan Kota Bekasi ke depan.
Pertama adalah penguatan infrastruktur yang terintegrasi. Menurutnya, sistem transportasi massal seperti LRT dan layanan transportasi kota harus terhubung dengan kawasan permukiman warga agar kemacetan yang selama ini terjadi dapat dikurangi secara signifikan.
Pilar kedua adalah ketahanan lingkungan dan tata kelola ekologi kota. Dengan intensitas curah hujan yang tinggi di wilayah Bekasi, pembangunan sistem polder air, normalisasi sungai, serta penambahan ruang terbuka hijau harus menjadi prioritas pemerintah daerah.
“Masalah banjir tidak bisa hanya diselesaikan secara parsial. Dibutuhkan kebijakan tata kota yang serius, termasuk menjaga ruang terbuka hijau sebagai paru-paru kota,” jelasnya.(10/03/2026)
Sementara pilar ketiga adalah transformasi digital birokrasi. Abudin menilai pelayanan publik berbasis digital sangat penting untuk meningkatkan transparansi serta mempermudah masyarakat dalam mengakses layanan pemerintahan.
Selain itu, Bekasi juga memiliki potensi besar dari sisi demografi. Banyak generasi muda kreatif yang dapat menjadi penggerak ekonomi baru jika difasilitasi dengan ruang publik kreatif dan dukungan terhadap UMKM digital.
Menurut Abudin, ke depan Bekasi membutuhkan lebih banyak creative hub atau ruang kreatif yang dapat menjadi wadah bagi komunitas seni, pelaku usaha rintisan, serta generasi muda yang ingin mengembangkan inovasi ekonomi.
“Hari jadi Kota Bekasi harus menjadi momentum sinergi antara pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat. Bekasi yang lebih baik adalah kota yang ramah bagi warganya, aman bagi anak-anak, dan transparan dalam pengelolaan pembangunan,” tegasnya.
Dengan potensi sumber daya manusia yang besar serta pertumbuhan ekonomi yang terus meningkat, Bekasi dinilai memiliki peluang untuk berkembang menjadi kota metropolitan yang tidak hanya maju secara fisik, tetapi juga berkualitas bagi kehidupan masyarakatnya.

