![]() |
| Ilustrasi |
BEKASI – TerasBatas.com — Dalam sejarah tasawuf, ada satu nama perempuan yang sinarnya tak pernah padam: Rabi’ah Al-Adawiyah. Ia bukan ratu, bukan bangsawan, bukan pula pemimpin pasukan. Ia adalah perempuan sederhana dari Basrah, Irak, yang memilih jalan cinta kepada Allah di atas segalanya.
Rabi’ah lahir pada abad ke-8 Masehi dalam keluarga miskin. Ayahnya wafat ketika ia masih kecil. Hidupnya tak mudah. Ia bahkan pernah menjadi budak. Namun justru dari lorong penderitaan itu, lahir cahaya yang kelak menerangi dunia tasawuf.
Konon, pada suatu malam majikannya melihat cahaya terang memancar dari tubuh Rabi’ah saat ia sedang beribadah. Ia mendengar doa yang lirih namun dalam:
“Ya Allah, Engkau tahu bahwa hatiku hanya menginginkan-Mu. Jika aku menyembah-Mu karena takut neraka, bakarlah aku di dalamnya. Jika aku menyembah-Mu karena mengharap surga, haramkanlah surga itu bagiku. Tetapi jika aku menyembah-Mu karena cinta kepada-Mu, jangan Engkau palingkan wajah-Mu dariku.”
Doa itu menjadi inti ajaran Rabi’ah: ibadah karena cinta, bukan karena takut atau berharap imbalan.
Setelah dimerdekakan, Rabi’ah memilih hidup zuhud. Ia menolak lamaran banyak lelaki saleh, termasuk ulama besar Hasan Al-Bashri. Baginya, cintanya telah penuh kepada Allah. Tidak ada ruang lain di hatinya.
Suatu hari ia berjalan membawa obor dan seember air. Orang bertanya, “Untuk apa itu?”
Ia menjawab, “Aku ingin membakar surga dan memadamkan neraka, agar manusia menyembah Allah bukan karena takut atau berharap, tetapi karena cinta.”
Kalimat itu bukan bentuk penolakan terhadap surga dan neraka, melainkan simbol dari kemurnian niat. Rabi’ah ingin mengembalikan ibadah pada hakikatnya: hubungan tulus antara hamba dan Tuhannya.
Dalam tradisi tasawuf, Rabi’ah dikenal sebagai pelopor konsep mahabbah ilahiyah — cinta ilahi. Ia mengajarkan bahwa kedekatan dengan Allah bukan sekadar ritual, melainkan perasaan yang hidup dan membakar jiwa.
Hidupnya sederhana. Rumahnya nyaris kosong dari harta. Namun hatinya penuh. Ia lebih memilih kesunyian malam untuk bermunajat daripada gemerlap dunia.
Kisah Rabi’ah mengajarkan bahwa kekuatan spiritual tidak ditentukan oleh status sosial atau kekuasaan. Seorang perempuan miskin dari Basrah mampu mengubah wajah tasawuf dan mengajarkan dunia tentang cinta yang tak bersyarat.
Di zaman ketika banyak orang beribadah karena kebiasaan atau tekanan sosial, Rabi’ah mengingatkan: ibadah adalah dialog hati. Bukan sekadar gerakan tubuh, bukan sekadar hitungan pahala.
Ia wafat sekitar tahun 801 M. Namun namanya tetap hidup. Bukan karena kekuasaan, melainkan karena cinta.
Dan mungkin, di tengah dunia yang sibuk mengejar materi dan pengakuan, pesan Rabi’ah masih relevan:
Bahwa yang paling agung dalam hidup bukanlah apa yang kita miliki, tetapi kepada siapa hati kita tertuju.

