![]() |
| Diskusi warga di ruang-ruang informal mencerminkan kegelisahan sosial sekaligus upaya mencari pijakan rasional di tengah perubahan zaman. |
Kabupaten Bekasi — Diskusi warga di ruang-ruang informal kerap menjadi cermin kegelisahan sosial sekaligus upaya kolektif mencari pijakan rasional di tengah perubahan zaman yang bergerak cepat.
Hal itu tampak dalam percakapan di sebuah grup WhatsApp warga Nahdlatul Ulama (NU) Tarumajaya, Kabupaten Bekasi. Dalam diskusi tersebut, muncul satu gejala yang mengemuka: ketegangan antara ilmu dan selera, antara sejarah sebagai pengetahuan yang berangkat dari metodologi, dan sejarah yang ditarik ke dalam preferensi pribadi maupun afiliasi tertentu.
Perbincangan bermula dari tanggapan terhadap cara memahami tokoh dan peristiwa sejarah. Sebagian peserta menekankan pentingnya membedakan antara sikap kritis berbasis ilmu dan penilaian emosional yang lahir dari kedekatan ideologis atau rasa suka–tidak suka. Sejarah, dalam pandangan ini, semestinya diperlakukan sebagai medan kajian yang terbuka terhadap bukti, bukan ruang pembenaran selera.
Seorang peserta diskusi menegaskan bahwa ilmu termasuk sejarah berdiri di atas evidensi yang dapat diuji secara rasional dan empiris. Ketika ilmu ditarik ke ranah selera, maka yang terjadi bukan lagi dialog pengetahuan, melainkan tarik-menarik kepentingan dan emosi.
Pandangan tersebut memantik respons beragam. Ada yang sepakat bahwa ilmu harus dijaga dari bias politik dan romantisme berlebihan, namun ada pula yang mengingatkan bahwa konteks sosial dan pengalaman kolektif sering kali memengaruhi cara seseorang membaca sejarah. Di titik inilah perdebatan menemukan ruangnya: antara objektivitas ideal dan realitas persepsi sosial.
Diskusi ini tidak sekadar mencerminkan perbedaan pendapat, melainkan menunjukkan kegelisahan yang lebih luas. Di tengah banjir informasi dan narasi yang saling bertabrakan, masyarakat khususnya di tingkat akar rumput sedang berusaha memilah mana pengetahuan, mana tafsir, dan mana sekadar selera.
Percakapan di grup NU Tarumajaya menjadi pengingat bahwa menjaga jarak antara ilmu dan selera bukan perkara mudah, tetapi tetap perlu diupayakan. Sebab dari situlah ruang dialog yang sehat dapat tumbuh dialog yang tidak hanya mempertahankan keyakinan, tetapi juga membuka kemungkinan untuk saling memahami.
Tags
Motivasi
