Memaknai “Wali Medsos” di Era Digital: Antara Dakwah, Etika, dan Tanggung Jawab

 

Kabupaten Bekasi - Di tengah derasnya arus informasi dan hiruk-pikuk media sosial, muncul fenomena yang kerap disebut masyarakat sebagai “wali medsos”—figur-figur yang memiliki pengaruh besar di ruang digital, diikuti ribuan bahkan jutaan orang, dan ucapannya mampu menggerakkan opini publik.

Menurut Nahrowi, istilah wali medsos sejatinya tidak boleh dipahami secara serampangan. “Wali dalam tradisi spiritual adalah sosok yang menjaga diri, lisannya, dan akhlaknya. Di media sosial, pengaruh besar itu harus diiringi tanggung jawab moral,” ujarnya.

Nahrowi menjelaskan, di era digital siapa pun bisa menjadi rujukan—bukan karena kedalaman ilmu, tetapi karena viralitas. Di sinilah letak ujian zaman. “Algoritma tidak mengenal adab. Ia hanya membaca interaksi. Maka tugas manusialah yang menghadirkan etika,” katanya.

Ia menekankan bahwa wali medsos idealnya bukan mereka yang paling keras bersuara, melainkan yang menenangkan, mencerahkan, dan mengajak berpikir jernih. Dalam pandangannya, dakwah digital seharusnya berfungsi sebagai jembatan pemahaman, bukan sumber perpecahan.

“Kalau media sosial hanya dipakai untuk membenarkan diri dan menyalahkan orang lain, itu bukan wilayah kewalian, tapi wilayah ego,” tambahnya. Karena itu, Nahrowi mengingatkan pentingnya niat, adab, dan tanggung jawab bagi siapa pun yang memiliki pengaruh di ruang publik digital.

Lebih jauh, ia menilai masyarakat juga perlu bersikap dewasa dalam menyikapi figur-figur populer di media sosial. Tidak semua yang viral layak dijadikan panutan, dan tidak semua yang tenang berarti tidak berilmu. “Literasi digital adalah bagian dari ikhtiar menjaga akal dan hati,” jelasnya.

Di era ketika satu unggahan bisa memicu gelombang reaksi, konsep wali medsos menurut Nahrowi harus dimaknai sebagai amanah, bukan status. Amanah untuk menjaga lisan digital, menyebarkan kebaikan, serta menghadirkan nilai kemanusiaan dan kebijaksanaan di tengah dunia maya yang sering gaduh.

“Pada akhirnya,” tutupnya, “media sosial hanyalah alat. Yang menentukan berkah atau mudaratnya adalah hati dan akhlak penggunanya.”

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama