Kabupaten Bekasi — Dalam sebuah tausiyah reflektif yang menggugah kesadaran batin, Hafidh Ismanto, Pimpinan Majelis Dzikir Tasfiyatul Qolbu Kabupaten Bekasi, mengajak jamaah memahami proses kehidupan sebagai jalan pemurnian hati.
Ia mengibaratkan relasi manusia seperti air dan minyak. Keduanya dapat berada dalam satu wadah, namun tidak pernah benar-benar menyatu. “Pada akhirnya, manusia akan bertemu dengan yang sejalan dan dipisahkan dari yang tidak selaras,” ujarnya. Menurutnya, perjumpaan dan perpisahan bukan kebetulan, melainkan hasil dari tabiat, karakter, kecenderungan, pola pikir, tujuan, dan arah hidup masing-masing.
Hafidh Ismanto menjelaskan, proses tasfiyah—pemurnian—terjadi ketika seseorang berada pada posisi dan kepentingan yang berbeda. Di titik itulah hati diuji. Bukan oleh kata-kata, tetapi oleh pilihan sikap. “Manusia dibentuk oleh proses, ditempa oleh masalah, dan diuji oleh waktu. Dari sanalah tampak siapa dirinya yang sebenarnya,” tuturnya.
Dalam perspektif Tasfiyatul Qolbu, waktu berperan sebagai penyingkap paling jujur. Ia memisahkan yang tulus dari yang berpura, yang istiqamah dari yang sementara. Karena itu, jamaah diajak untuk tidak larut dalam kekecewaan atas perpisahan, dan tidak silau oleh kedekatan yang belum teruji.
Melalui Majelis Dzikir Tasfiyatul Qolbu di Kabupaten Bekasi, Hafidh Ismanto terus menanamkan kesadaran bahwa tujuan dzikir bukan sekadar ketenangan sesaat, melainkan membersihkan hati agar jernih dalam memandang hidup. Sebab, ketika hati telah murni, manusia akan menemukan tempatnya sendiri—sebagaimana air dan minyak yang akhirnya berada pada lapisannya masing-masing.
