Kab Bekasi - Sejak malam Minggu hingga Minggu sore, hujan yang turun berkesinambungan membuat air mengalir deras dan menggenangi sejumlah wilayah di Kabupaten Bekasi. Jalan-jalan kampung berubah menjadi alur air, pelataran rumah tergenang, dan kawasan sekitar mushola serta fasilitas warga ikut terendam. Menjelang sore, ketika cahaya matahari merendah dan langit memantulkan warna kelabu keemasan, genangan air memantulkan bayang-bayang rumah dan pepohonan—menciptakan pemandangan yang sunyi namun sarat makna.
Warga melangkah perlahan menembus arus, saling mengingatkan dan membantu agar tetap aman. Di tengah derasnya aliran, tumbuh ketenangan yang lahir dari kebersamaan. Air bukan hanya membawa lumpur dan kekhawatiran, tetapi juga pesan tentang kehidupan yang terus bergerak—bahwa segala yang mengalir adalah bagian dari ketetapan Ilahi: datang sebagai ujian, namun menyimpan hikmah.
Menurut Ust. Syaifullah, S.Ag, limpahan air patut disikapi dengan kejernihan batin.
“Air adalah anugerah Allah. Ketika ia datang berlebih, itu bukan semata musibah, melainkan pengingat agar manusia kembali menata hubungan dengan alam dan dengan Tuhan,” tuturnya.
Ia menambahkan, kesabaran dan gotong royong warga dalam menghadapi genangan merupakan ibadah sosial—saling menjaga, saling menolong.
Di beberapa titik, arus masih tampak kuat hingga Minggu sore. Namun di balik itu, terlihat solidaritas yang menguat: warga membantu menyeberang, memastikan anak-anak dan lansia aman, serta menjaga lingkungan sekitar. Malam Minggu yang panjang hingga sore hari itu menjadi catatan tentang alam yang berbicara dan manusia yang belajar mendengar.
Saat matahari kian tenggelam, air masih mengalir menuju muaranya. Bersama doa yang lirih dan langkah yang tertib, masyarakat menutup hari dengan keyakinan: setiap aliran memiliki muara. Dan di balik ujian, selalu ada anugerah yang mengajarkan manusia untuk lebih rendah hati, lebih peduli, dan lebih dekat kepada-Nya.

