Kabupaten Bekasi — Di tengah padatnya permukiman dan rutinitas kerja warga, memancing tetap menjadi hobi yang hidup di Kecamatan Babelan, Kabupaten Bekasi. Dari empang kampung, saluran irigasi, hingga kolam pemancingan sederhana, aktivitas mancing menjadi ruang jeda bagi warga untuk melepas penat.
Di beberapa kampung, empang bekas sawah dan aliran air kecil masih dimanfaatkan sebagai spot mancing. Pagi dan sore hari, warga tampak duduk di pinggir air dengan joran sederhana, termos kopi, dan obrolan ringan. Ikan yang biasa didapat beragam, mulai dari mujair, nila, lele, hingga gabus.
“Yang penting bukan ikannya, tapi kumpulnya,” ujar seorang warga Babelan yang hampir setiap akhir pekan menghabiskan waktu di empang dekat rumahnya. Bagi banyak pemancing, mancing menjadi cara murah untuk menenangkan pikiran tanpa harus pergi jauh dari kampung.
Selain spot alami, kolam pemancingan berbayar juga cukup diminati. Meski harus merogoh kocek, warga menilai kolam lebih nyaman dan aman, terutama untuk membawa anak-anak. Tak jarang, kolam pemancingan berubah menjadi tempat silaturahmi antarwarga dari berbagai kampung di Babelan.
Aktivitas mancing di Babelan juga mencerminkan kehidupan sosial warga. Di pinggir kolam, obrolan mengalir mulai dari harga kebutuhan pokok, kondisi banjir, hingga cerita kerja sehari-hari. Anak muda dan orang tua duduk berdampingan, berbagi tips umpan dan teknik memancing.
Namun, warga mengakui bahwa spot mancing alami kini semakin berkurang. Perubahan lingkungan, pencemaran air, dan alih fungsi lahan membuat ikan tidak lagi mudah ditemukan di beberapa lokasi yang dulu ramai. Meski demikian, semangat mancing tidak surut.
Bagi warga Babelan, memancing bukan sekadar hobi. Ia adalah bagian dari keseharian, ruang sederhana untuk berbagi cerita, dan cara bertahan di tengah hiruk pikuk kehidupan pinggir kota. Di tepi air yang tenang, warga menemukan kebersamaan yang sering tak mereka temukan di tempat lain.
