Kabupaten Bekasi — Pengajian yang disampaikan Ustad Lahmudin, S.Pd kembali mengingatkan umat tentang kedalaman makna keberagamaan dalam Islam. Dalam kajian bertema Islam, Iman, dan Ihsan yang beredar di media sosial, ia menekankan bahwa perjalanan spiritual seorang Muslim tidak berhenti pada ritual, melainkan berlanjut pada pemurnian niat dan orientasi amal.
Ustad Lahmudin menjelaskan pandangan sebagian ahli hakikat bahwa seseorang yang telah sampai pada pemahaman hakikat Islam tidak lagi memandang amal sebagai sekadar aktivitas lahiriah. Pada tahap ini, amal dilakukan dengan kesadaran, bukan sekadar kebiasaan. “Bukan banyaknya perbuatan yang menjadi ukuran, tetapi makna dan niat di baliknya,” ujar Ustad Lahmudin dalam pengajiannya.
Lebih jauh, pada tingkat iman, ia menyampaikan bahwa seorang hamba tidak lagi menggantungkan amal pada penilaian manusia. Amal hanya ditujukan kepada Allah, tanpa berharap pengakuan atau pujian. Kesadaran inilah yang membedakan antara rutinitas ibadah dan penghambaan yang sesungguhnya.
Adapun pada puncak ihsan, menurut Ustad Lahmudin, seorang hamba tidak lagi berpaling kepada selain Allah. Seluruh orientasi batin tertuju pada kehadiran-Nya. Ihsan dimaknai sebagai keadaan beribadah seakan-akan melihat Allah, dan jika tidak mampu, menyadari sepenuhnya bahwa Allah senantiasa melihat setiap gerak dan niat manusia.
Pesan dalam pengajian tersebut dinilai relevan dengan kondisi kehidupan modern, di mana praktik keagamaan kerap terjebak pada simbol dan tampilan luar. Kajian ini justru mengajak umat untuk kembali pada inti ajaran Islam: ketulusan, kejujuran niat, dan kesadaran batin dalam beribadah.
Di tengah derasnya arus informasi dan ekspresi keberagamaan di ruang publik, pengajian Ustad Lahmudin menjadi pengingat bahwa kualitas iman tidak diukur dari apa yang tampak, melainkan dari arah hati dan tujuan amal itu sendiri.
