Ruh Ramadan Terkandung dalam Al-Qur’an

 

Refleksi Spiritual oleh Muhammad Hafidh Ismanto, S.Ag

Bekasi – TerasBatas.com — Ramadan tidak dapat dipisahkan dari Al-Qur’an. Dalam bulan suci inilah kitab suci umat Islam pertama kali diturunkan sebagai petunjuk hidup bagi manusia. Maka, memahami Ramadan tanpa mendekat kepada Al-Qur’an sejatinya kehilangan ruh terdalamnya.

Pemimpin Majelis Dzikir Ruhani Bekasi Raya, Muhammad Hafidh Ismanto, S.Ag, menyampaikan bahwa inti Ramadan bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi membangun kembali hubungan spiritual dengan Kalam Ilahi.

“Ramadan adalah bulan Al-Qur’an. Ruhnya ada pada interaksi hati dengan ayat-ayat Allah. Jika puasa hanya menahan makan, tetapi tidak mendekat pada Al-Qur’an, maka kita belum menyentuh esensinya,” ujarnya dalam tausiyahnya.(17/2/2026)

Dalam Surah Al-Baqarah ayat 185 ditegaskan bahwa Ramadan adalah bulan diturunkannya Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelas atas petunjuk tersebut. Ayat ini menjadi landasan bahwa seluruh nilai Ramadan berpijak pada wahyu.

Menurut Hafidh Ismanto, Al-Qur’an bukan hanya untuk dibaca, tetapi direnungkan dan diamalkan. Tadarus, tafakur, serta memperbaiki akhlak adalah bagian dari menghidupkan ruh Ramadan.

“Al-Qur’an membersihkan hati. Ia menenangkan jiwa yang gelisah dan menguatkan iman yang melemah. Ramadan menjadi waktu terbaik untuk kembali menyelaraskan hidup dengan petunjuk Ilahi,” tambahnya.

Dalam tradisi para ulama klasik, Ramadan dipandang sebagai momentum tajdid—pembaruan iman. Banyak ulama terdahulu mengkhatamkan Al-Qur’an berkali-kali dalam bulan ini, bukan sekadar mengejar jumlah, tetapi menghadirkan kesadaran batin dalam setiap ayat.

Ruh Ramadan, lanjutnya, adalah perubahan. Dari lalai menjadi sadar. Dari keras menjadi lembut. Dari jauh menjadi dekat kepada Allah.

Di tengah kehidupan modern yang penuh distraksi, Ramadan mengajarkan kembali makna keheningan dan perenungan. Al-Qur’an hadir sebagai cahaya yang menuntun arah, bukan hanya dalam ibadah, tetapi dalam kehidupan sosial, keluarga, dan bermasyarakat.

Ramadan bukan hanya bulan ritual, tetapi bulan transformasi dan transformasi itu dimulai dari hati yang tersentuh oleh Al-Qur’an.

Bekasi – TerasBatas.com

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama