BEKASI — Di tengah kecenderungan dakwah yang kerap dilekatkan pada struktur organisasi, kepengurusan, dan atribut formal, Majelis Sholawat Nariyah Al-Ikhlas justru tumbuh dengan cara yang berbeda. Tanpa sayap organisasi, tanpa bendera, dan tanpa komando struktural, majelis ini mampu memantik kehadiran ribuan jamaah dari berbagai latar belakang.
M. Chandra Hakim, selaku pengasuh Majelis Sholawat Nariyah Al-Ikhlas, menuturkan bahwa majelis ini sejak awal tidak dibangun dengan target jumlah jamaah. Fokus utama yang dijaga adalah keikhlasan dalam bershalawat dan konsistensi dalam merawat majelis.
“Kami tidak pernah mengajak dengan cara memobilisasi. Jamaah datang karena panggilan hati. Sholawat itu yang bekerja, bukan kami,” ujar M. Chandra Hakim.
Menurutnya, sholawat menjadi ruang bersama yang inklusif. Tidak ada sekat latar belakang, afiliasi, ataupun identitas kelompok. Semua hadir sebagai jamaah, duduk sejajar dalam suasana yang sederhana dan tenang.
Sementara itu, Moh. Sulaiman menilai fenomena Sholawat Nariyah Al-Ikhlas menunjukkan bahwa dakwah sejatinya tidak selalu bergantung pada kekuatan struktur. Ia melihat majelis ini tumbuh karena kepercayaan dan keteladanan, bukan karena komando organisasi.
“Ketika dakwah menyentuh kebutuhan ruhani masyarakat, orang akan datang dengan sendirinya. Tidak harus ada sayap organisasi, karena yang menggerakkan adalah keikhlasan dan ketenangan,” kata Moh. Sulaiman.
Ia menambahkan, dalam konteks masyarakat Bekasi yang hidup di tengah tekanan urban dan ritme sosial yang cepat, majelis sholawat menjadi ruang jeda yang penting. Sholawat tidak hanya menjadi bacaan, tetapi sarana menenangkan jiwa dan merawat kebersamaan.
Pendekatan yang menempatkan sholawat sebagai pusat majelis—bukan figur—membuat suasana tetap teduh dan menjauhkan dakwah dari nuansa kultus individu. Di tengah maraknya gerakan massa yang kerap dibungkus simbol keagamaan, Sholawat Nariyah Al-Ikhlas hadir sebagai penyeimbang yang menyejukkan.
Fenomena ini memperlihatkan bahwa dakwah tanpa sayap organisasi bukan berarti tanpa arah. Justru dari kesederhanaan, konsistensi, dan ketulusan itulah daya tarik majelis tumbuh secara alami, pelan namun mengakar di tengah masyarakat.
