Antara Gerakan Massa dan Dakwah Agama, Menjaga Nalar di Tengah Riuh Bekasi


Kabupaten Bekasi - Di tengah dinamika masyarakat Bekasi yang kian ramai dengan berbagai ekspresi keagamaan dan sosial, perbincangan soal batas antara gerakan massa dan dakwah agama kembali mengemuka. Fenomena ini dinilai perlu dibaca dengan kepala dingin agar semangat beragama tetap menghadirkan keteduhan, bukan justru kegaduhan.

Menurut Ust. Syaifullah, S.Pd, Pengasuh Majelis Dzikir sekaligus Kepala Madrasah Ibtidaiyah (MI) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP), dakwah sejatinya adalah proses membina kesadaran dan akhlak umat. Dakwah, kata dia, tidak diukur dari ramainya barisan atau banyaknya massa yang berkumpul, melainkan dari sejauh mana nilai kebaikan itu hidup dalam perilaku sehari-hari.

“Di Bekasi ini masyarakatnya majemuk. Dakwah harus hadir sebagai penyejuk, bukan pemantik emosi. Kalau dakwah berubah jadi ajang pengerahan massa, ruhnya bisa hilang,” ujar Ust. Syaifullah.

Ia menjelaskan, Rasulullah SAW memulai dakwah dengan keteladanan, kesabaran, dan pendekatan personal. Perubahan besar dalam sejarah Islam justru lahir dari proses yang tenang dan konsisten, bukan dari letupan emosi sesaat. Karena itu, dakwah tidak semestinya diseret ke ruang mobilisasi yang sarat kepentingan.

Ust. Syaifullah juga mengingatkan bahwa persoalan muncul ketika simbol-simbol agama digunakan sebagai pembenar kemarahan kolektif. Dalam kondisi seperti ini, perbedaan mudah dipersempit menjadi soal benar dan salah, sementara ruang dialog dan kebijaksanaan semakin menyempit.

“Islam tidak melarang umat bersuara soal ketidakadilan. Tapi suara itu harus lahir dari ilmu dan akhlak. Kalau cuma euforia, yang muncul bukan pencerahan, tapi penghakiman,” katanya.

Di tengah riuhnya ruang publik Bekasi hari ini—dari mimbar ke media sosial—menjaga batas antara dakwah dan gerakan massa menjadi tanggung jawab bersama. Dakwah diharapkan tetap menjadi cahaya yang menuntun dan menenangkan, sementara gerakan sosial tidak menjadikan agama sekadar alat legitimasi.

“Ukuran keberhasilan dakwah bukan seberapa ramai orang turun ke jalan, tapi seberapa jauh akhlak umat berubah ke arah yang lebih baik,” pungkasnya.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama