![]() |
| Ilustrasi foto sumber unsplash |
TerasBatas.com,Nasional - Ada masa dalam sejarah Indonesia ketika negeri ini belum bergantung pada minyak, belum tenggelam dalam hiruk-pikuk industri, dan belum terhubung oleh jaringan digital seperti hari ini. Namun anehnya, pada masa itu, kehidupan tetap bergerak. Rakyat tetap bertahan, bahkan membangun perlahan, tapi dengan kesadaran yang kuat.
Indonesia tempo doeloe adalah tentang kesederhanaan yang hidup. Tentang desa-desa yang tidak kaya materi, tetapi kaya makna. Sawah digarap bukan sekadar untuk produksi, tetapi sebagai bagian dari kehidupan. Laut dijaga bukan hanya sebagai sumber penghidupan, tetapi sebagai warisan.
Tidak ada energi fosil yang melimpah seperti sekarang. Tidak ada ketergantungan pada sistem global yang kompleks. Yang ada adalah tenaga manusia, gotong royong, dan kesadaran bahwa hidup tidak bisa dipisahkan dari alam.
Dan justru di situlah kekuatannya.
Hari ini, kita hidup dalam dunia yang serba cepat. Energi mengalir dari berbagai sumber, teknologi mempermudah segalanya, dan ekonomi bergerak dalam skala yang jauh lebih besar. Namun di balik semua kemudahan itu, ada ketergantungan yang semakin dalam pada minyak, pada sistem global, pada hal-hal yang tidak sepenuhnya kita kendalikan.
Ketika harga energi naik, kita gelisah. Ketika rantai pasok terganggu, kita panik. Seolah-olah kita lupa bahwa dulu kita pernah hidup tanpa semua itu.
Bukan berarti kita harus kembali ke masa lalu. Tetapi ada pelajaran penting yang sering kita abaikan: kemandirian lahir dari kesadaran, bukan dari kelimpahan.
Indonesia tempo doeloe mengajarkan bahwa pembangunan tidak selalu dimulai dari sumber daya besar, tetapi dari cara pandang. Dari kesediaan untuk bekerja bersama, dari kemampuan membaca alam, dan dari kesadaran bahwa setiap langkah kecil memiliki arti.
Masyarakat dulu mungkin tidak memiliki teknologi canggih, tetapi mereka memiliki hubungan yang lebih dalam dengan tanah, dengan sesama, dan dengan kehidupan itu sendiri. Mereka tidak hanya hidup, tetapi memahami hidup.
Di era sekarang, tantangannya berbeda. Kita tidak hanya dituntut untuk maju, tetapi juga untuk tidak kehilangan arah. Kita bisa memiliki energi, teknologi, dan kekuatan ekonomi, tetapi tanpa kesadaran, semua itu bisa membuat kita jauh dari akar.
Maka mungkin, yang perlu kita lakukan bukan mundur, tetapi mengingat.
Mengingat bahwa bangsa ini pernah berdiri tanpa bergantung sepenuhnya pada dunia luar. Bahwa kita pernah bergerak bukan karena dorongan krisis, tetapi karena kesadaran kolektif untuk hidup lebih baik.
Dan jika kesadaran itu bisa kita bangun kembali di tengah era digital dan geopolitik yang kompleks maka Indonesia tidak hanya akan bertahan, tetapi juga menemukan jalannya sendiri.
Karena pada akhirnya, kekuatan sejati sebuah bangsa tidak hanya terletak pada apa yang dimilikinya, tetapi pada seberapa sadar ia memahami dirinya.
Penulis : Redaksi TerasBatas.com


0 Komentar