![]() |
| Ilustrasi gambar sumber unsplas |
Oleh: H. Ahmad Baihaqi, Lc (Alumnus Universitas Al-Azhar Mesir & Aktivis Kajian Keislaman)
Jakarta,TerasBatas.com (31/05/2026) - Misteri waktu kepulangan Nabi Muhammad SAW ke haribaan Sang Pencipta selalu memancarkan getaran transendental yang menggetarkan jiwa spiritual setiap pencari kebenaran. Rahasia di balik ketetapan waktu ini menyimpan cetak biru teologis yang sangat rapi, di mana perjalanan hidup beliau terbukti bukan sebuah kebetulan biologis melainkan desain makro kosmos yang penuh hikmat kebijaksanaan. Fenomena batas usia biologis ini menuntut pembacaan multidimensi yang memadukan kedalaman rasa spiritual dengan keterbukaan sains modern, membedah alasan mengapa sang pembawa risalah pamungkas ini kembali dalam usia yang relatif ringkas dibandingkan dengan nabi-nabi terdahulu.
Melalui kacamata sejarah dan kronologi kenabian, seluruh sisa umur beliau terbagi secara presisi ke dalam beberapa fase krusial, mulai dari pembentukan karakter tepercaya di masa muda, perjuangan menegakkan fondasi ketauhidan di tanah kelahiran, hingga pemantapan tatanan sosial hukum di kota perlindungan. Titik akhir dari rangkaian panjang ini berhulu pada proklamasi langit yang menyatakan bahwa syariat Islam telah mencapai purnatugas. Ketika misi tauhid telah tegak kokoh serta institusi sosial kemasyarakatan peradaban baru telah mandiri, tugas biologis seorang utusan di muka bumi ini secara substansial dianggap telah selesai, sebab sistem nilai yang ditinggalkan sudah memiliki daya hidup untuk berdiri sendiri tanpa ketergantungan pada sosok fisik.
Dimensi transendental yang jarang teraba oleh logika awam adalah bekerjanya hukum spiritual khusus berupa hak pilih mutlak yang melekat eksklusif pada eksistensi para utusan ilahi menjelang detik-detik transisi kepulangan mereka. Berdasarkan kesaksian suci dari bilik rumah istri tercinta beliau, setiap nabi selalu diberikan kebebasan prerogatif oleh Sang Pemilik Jiwa antara memperpanjang masa edar biologis di alam fana atau memilih pulang ke keabadian. Sang Nabi secara sadar memilih kalimat puncaknya yang menegaskan kerinduan absolut untuk menyatu dengan Kekasih yang Maha Tinggi, sebuah pilihan cinta yang membuktikan bahwa kepulangan beliau berada di bawah kendali spiritual yang agung, bukan visualisasi dari ketidakberdayaan fisik di hadapan maut.
Sains modern ikut menyingkap tabir klinis ini, sebagaimana diuraikan oleh Budi Sujati dan Reza Apriandi dalam artikel mereka berjudul Analisis Historis Penyebab Wafatnya Nabi Muhammad: Sakit Atau Diracun. Penelitian tersebut mendeteksi adanya gejala demam tinggi serta sakit kepala hebat yang mendahului kepergian beliau, sekaligus menganalisis efek jangka panjang dari sisa zat beracun pasca-peristiwa Khaibar yang secara perlahan memengaruhi sistem imunitas tubuh beliau seiring berjalannya waktu. Perspektif epidemiologi kuno ini diperkuat oleh Novita Nurlaeli Handayani dalam riset akademisnya berjudul Kajian Historis Terhadap Wabah Pada Masa Nabi Muhammad SAW (571-632 M), yang mencatat dinamika interaksi biologis di mana wilayah kota perlindungan saat itu sangat rentan terhadap serangan endemik demam musiman yang sempat menjangkiti beberapa sahabat dekat.
Kejutan ilmiah muncul ketika rentang usia beliau dianalisis menggunakan perangkat demografi sejarah melalui jurnal-jurnal internasional bertema studi Timur Tengah, yang memetakan bahwa angka harapan hidup rata-rata manusia di Jazirah Arab pada abad ketujuh hanya berkisar pada usia paruh baya akibat kerasnya iklim gurun dan keterbatasan higienitas medis. Fakta ini membuktikan bahwa keberhasilan beliau bertahan hidup hingga melewati kepala enam justru menempatkan fisik beliau pada kategori daya tahan tubuh di atas rata-rata populasi zamannya. Di sisi lain, telaah interdisipliner dalam publikasi ilmiah Al-Hilal: Journal of Islamic Astronomy memberikan koreksi matematis bahwa perhitungan waktu berdasarkan sistem peredaran bulan menghasilkan angka yang lebih panjang dua tahun dibanding sistem peredaran matahari, sehingga meluruskan konversi biologis kronologi hidup beliau dalam catatan sejarah dunia.
Dari sudut pandang antropologi spiritual, batas usia sang Rasul sengaja didesain sebagai teladan protektif sekaligus titik tengah ideal dari grafik prediksi demografis usia umat manusia modern di akhir zaman. Batasan waktu ini merupakan perwujudan kasih sayang universal agar manusia tidak dipanjangkan umurnya hingga melewati ambang batas kemampuan panca indra yang memicu degradasi memori berat. Batas usia kepulangan beliau akhirnya menjelma menjadi standar emas bagi peradaban untuk mengoptimalkan karya, ibadah, dan kontribusi sosial kemanusiaan secara padat serta berkualitas, sebelum tubuh mengalami penurunan fungsi alami yang melemahkan esensi produktivitas hidup.(Red)
