Ancaman "Digital Burnout" dan Krisis Identitas Dan Sisi Gelap Ambisi Instan Gen Z di Media Sosial

Ilustrasi gambar sumber unsplas

Bekasi,TerasBatas.com(31/05/2026) – Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, sebuah fenomena senyap namun destruktif kini tengah mengintai masa depan Generasi Z (Gen Z). Fenomena tersebut adalah Digital Burnout (kelelahan mental digital) yang berujung pada krisis identitas akut, dipicu oleh obsesi mengejar popularitas dan validasi instan di jagat maya.

Jika dahulu anak muda berkompetisi di dunia nyata lewat prestasi akademik atau organisasi, kini arena pertarungan berpindah ke layar kaca. Mereka berlomba-lomba memamerkan gaya hidup, estetika visual, hingga jumlah pengikut (followers) dan views yang tinggi. Fenomena ini menciptakan standar kesuksesan baru yang tidak realistis, semu, dan manipulatif.

Kondisi ini memicu keprihatinan mendalam dari para tokoh dan pemuka masyarakat di Kota Bekasi. Ketua Lembaga Bantuan Hukum Nahdlatul Ulama (LBH NU) Kota Bekasi, Hj. Sifniwati, S.H., M.H., menegaskan bahwa fenomena ini sudah masuk dalam tahap darurat pelindungan anak dan remaja, bahkan kerap berujung pada pelanggaran hukum.

"Dari kacamata hukum dan perlindungan, tekanan digital ini sangat berbahaya. Banyak anak muda yang karena depresi dan ingin instan memenuhi gaya hidup digital, akhirnya terjebak tindak kriminal, mulai dari judi online, penipuan siber, hingga jeratan pinjaman online ilegal. Mereka mengorbankan masa depan demi validasi semu," tegas Hj. Sifniwati.(31/05/2026) 

Sejalan dengan hal tersebut, Pengurus Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Bekasi, Muhammad Jufri, S.E., menyoroti runtuhnya produktivitas ekonomi dan mentalitas juang para kader muda akibat waktu yang habis di dunia maya.

"Anak muda sekarang menghadapi tekanan psikologis yang besar dari algoritma. Mereka menghabiskan waktu produktif hingga belasan jam sehari hanya demi konten atau memantau linimasa, sehingga mengalami digital burnout. Akibatnya, mereka kehilangan kepekaan sosial, malas berproses di dunia nyata, dan mengidap krisis identitas karena selalu membandingkan diri dengan orang lain," jelas Muhammad Jufri.

Ia menambahkan bahwa media sosial mendidik generasi muda untuk serba instan. Padahal, membangun masa depan yang kokoh memerlukan ketahanan mental, spiritual, dan kerja keras nyata di kehidupan asli.

Melalui narasi pencerahan ini, LBH NU dan PCNU Kota Bekasi mendesak sinergi antara orang tua, ulama, dan lembaga pendidikan untuk memperkuat benteng moral dan literasi digital. Generasi muda harus disadarkan kembali bahwa harga diri dan kesuksesan mereka tidak ditentukan oleh jumlah likes atau algoritma aplikasi, melainkan oleh akhlak, karya nyata, dan kontribusi konkrit mereka di tengah masyarakat.(Red) 



Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama