Kecanduan "Gift" TikTok: Candu Validasi Digital yang Menguras Dompet Gen Z

Ilustrasi gambar foto unsplas

BEKASI,TerasBatas.com (31/05/2026) – Ruang live streaming TikTok kini bukan lagi sekadar panggung hiburan, melainkan medan pertempuran gengsi baru bagi Generasi Z (Gen Z). Di balik riuhnya animasi Singa atau kereta selam yang melintas di layar ponsel, tersimpan sebuah fenomena mengkhawatirkan: perburuan validasi instan yang berujung pada kerugian finansial nyata demi eksistensi di dunia maya.

Bagi banyak anak muda, membeli koin TikTok untuk dikonversi menjadi hadiah (gift) digital terasa seperti permainan biasa. Kemudahan akses pembayaran instan membuat proses top-up uang rupiah menjadi koin digital terasa begitu bias dan semu. Namun, saat gift tersebut dikirimkan ke kreator favorit dalam kompetisi Live PK (Player Knockout), ada kepuasan psikologis yang manipulatif yang sedang terjadi.

Bahaya utama dari fenomena ini adalah ketergantungan pada hormon dopamin yang dilepaskan saat nama penonton disebut secara histeris oleh kreator (shout-out). Pengakuan instan ini menciptakan ilusi status sosial tinggi di dalam komunitas digital. Demi mempertahankan status "pahlawan" atau "sultan" di kolom komentar, banyak remaja terjebak dalam perilaku konsumtif impulsif.

Fenomena ini turut memicu keprihatinan dari aktivis dan pemerhati anak muda asal Bekasi, Subur Saputra, S.Sy., M.H. Menurutnya, tren ini sudah memasuki tahap yang mengkhawatirkan karena mengaburkan logika berpikir sehat generasi muda mengenai nilai uang dan produktivitas. Tidak hanya bagi penonton yang boros, bahaya nyata juga mengintai para remaja yang terjun menjadi kreator live stream demi mengejar rupiah semu.

"Banyak anak muda di Bekasi dan sekitarnya yang terjebak dalam ilusi ini. Mereka rela menghabiskan waktu berjam-jam di depan kamera, mengorbankan waktu belajar dan istirahat, hanya demi pendapatan yang sebenarnya tidak seberapa. Sistem platform memotong komisi sangat besar, hingga 50 persen atau lebih. Jadi, apa yang mereka terima di dunia nyata sangat jauh dari nominal gift yang terlihat mewah di layar," ujar Subur Saputra.(31/05/2026) 

Lebih lanjut, Subur menekankan dampak psikologis yang jauh lebih berbahaya daripada kerugian materi. Di ruang live, para remaja rentan mengalami perundungan digital (cyberbullying), tuntutan untuk selalu tampil sempurna, hingga depresi jika penonton sepi. Mental generasi muda dipertaruhkan demi algoritma siber yang kejam.

"Mereka yang menonton rela mengorbankan uang saku, sedangkan mereka yang melakukan live mengorbankan kesehatan mental dan waktu mudanya. Keduanya terjebak dalam lingkaran setan Fear of Missing Out (FOMO) dan interaksi semu. Perhatian di dunia maya itu instan; saat gift habis atau live selesai, popularitas itu hilang dan mereka kembali ke realitas dengan kondisi mental yang lelah dan dompet yang kosong," tambah Subur.

Melalui fenomena ini, Subur Saputra mengajak seluruh elemen masyarakat, terutama orang tua dan institusi pendidikan, untuk memperkuat literasi keuangan digital serta pendampingan psikologis bagi generasi muda. Ruang siber harus dipandang secara bijak sebagai alat pendukung produktivitas, bukan tempat mencari pengakuan diri atau ladang eksploitasi waktu yang harus ditebus dengan harga mahal. Koin digital mungkin hanya angka di layar kaca, tetapi mental yang rusak dan waktu yang terbuang adalah kenyataan pahit yang harus dihadapi di dunia nyata.(Red) 




Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama