![]() |
| Ilustrasi gambar sumber foto unsplash |
Bekasi, TerasBatas.com (31/05/2026) - Di balik gemerlapnya peluncuran roket modern yang membelah atmosfer bumi dan kecanggihan stasiun luar angkasa yang mengorbit dalam keheningan kosmis, tersimpan sebuah rahasia besar tentang bagaimana umat manusia memicu nyali intelektual mereka. Jauh sebelum manusia berhasil merancang sayap titanium atau menghitung lintasan orbit antarplanet, sebuah maklumat agung dalam lembaran kitab suci telah mengumandangkan tantangan kosmologis yang radikal. Isyarat dalam surat Ar-Rahman ayat tiga puluh tiga menjadi seruan terbuka yang menguji batas kemampuan manusia dan jin untuk melintasi batas-batas vertikal alam semesta, sebuah teks suci yang tidak sekadar dibaca sebagai ritual keagamaan, melainkan diekstrak oleh para pemikir sebagai undang-undang dasar penjelajahan antariksa.
Tantangan ilmiah langsung dari Sang Pencipta ini berporos pada satu klausa kunci yang sangat krusial, yang berbunyi:
"Wahai golongan jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus penjuru langit dan bumi, maka tembuslah! Kamu tidak akan mampu menembusnya kecuali dengan kekuatan."
Frasa la tanfudzuna illa bi sulthan yang berarti kamu tidak akan mampu menembusnya kecuali dengan kekuatan atau otoritas khusus, menjadi titik awal dari segala kalkulasi fisik. Para ahli tafsir dan ilmuwan klasik tidak memahami kata "sulthan" di sini sebagai kekuatan magis, jampi-jampi okultisme, atau bantuan makhluk gaib. Mereka mendekonstruksinya secara logis sebagai manifestasi dari ilmu pengetahuan tingkat tinggi dan kemampuan rekayasa teknologi yang murni dan memadai. Melalui pemahaman batiniah ini, kitab suci sejatinya sedang meletakkan sebuah prasyarat mutlak: jika manusia ingin menaklukkan batas ruang dan waktu untuk keluar dari rahim bumi, mereka wajib menguasai hukum-hukum alam yang konsisten.
Ketika para periset dan insinyur dirgantara mulai melakukan observasi mendalam untuk menjawab tantangan tersebut, lembaran isyarat suci itu bertransformasi menjadi aplikasi teknologi tinggi yang rigid di laboratorium sains. Klausa in istatha'tum an tanfudzū yang bermakna jika kamu sanggup menembus, diekstrak menjadi sebuah perintah untuk memecahkan batas-batas mekanika fluida dan gravitasi. Manusia mulai tekun meriset hukum aerodinamika untuk membelah hambatan udara, memetakan mekanika astrodinamika untuk menghitung jalur penerbangan, serta mengkalkulasi gaya gravitasi demi mencapai kecepatan lepas yang dibutuhkan untuk lolos dari dekapan bumi. Buah dari kepatuhan terhadap riset empiris ini melahirkan teknologi mesin roket pendorong, satelit komunikasi global, hingga misi penjelajahan robotik ke planet-planet jauh di tata surya kita.
Alur penemuan ini mengalir menjadi ruang refleksi yang sangat tajam bagi masyarakat modern yang hari ini hidup di tengah kepungan kemudahan digital. Fenomena ini membuktikan bahwa kekuatan dan kejayaan sebuah peradaban hanya dapat diraih melalui jalur ilmu pengetahuan yang luhur dan jujur, bukan melalui jalan pintas yang merusak akal sehat. Kisah penaklukan ruang angkasa berbasis ekstraksi ayat suci ini mengajari kita untuk membuang jauh-jauh cara pandang mistis-transaksional seperti praktik pesugihan di lereng gunung atau pemujaan eksentrik demi keuntungan materi instan. Kekuatan sejati yang diberkahi oleh Tuhan senantiasa menuntut keringat riset ilmiah dan keteguhan nalar di atas meja eksperimen.
Pada akhirnya, keberhasilan manusia melintasi penjuru langit harus menjadi alarm pengingat bagi masa depan kemanusiaan di bumi. Di era teknologi kecerdasan buatan dan penjelajahan ruang angkasa yang semakin canggih, manusia tidak boleh kehilangan kompas spiritual dan otonomi moralnya. Sains tingkat tinggi yang lahir dari inspirasi ayat suci harus tetap berada di bawah kendali etika yang agung, digunakan untuk menjaga kelestarian alam dan memajukan kemaslahatan hidup bersama. Kita ditantang untuk terus mengasah kecerdasan akal sekaligus menjaga kesucian jiwa, memastikan bahwa setiap teknologi yang kita ciptakan membuat kita semakin mengagumi kebesaran Sang Pencipta, bukan justru menjerumuskan kita ke dalam kesombongan yang merusak martabat kemanusiaan.(Red)
