Subscribe Us


 

Eskalasi Konflik Timur Tengah Picu Kekhawatiran, INH Soroti Dampak Kesadaran dan Teknologi Perang Modern

Foto : Ahmad Tosari Penggiat HAM dari INH

TerasBatas.com - Eskalasi konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah terus menjadi perhatian dunia internasional, termasuk di Indonesia. Ketegangan yang kian meningkat tidak hanya berdampak pada stabilitas kawasan, tetapi juga memicu resonansi sosial dan politik di berbagai negara, seiring derasnya arus informasi global yang semakin sulit dibendung.

Penggiat Hak Asasi Manusia dari International Networking for Humanitarian (INH), Ahmad Tosari, menilai bahwa konflik yang terjadi saat ini telah memasuki fase yang jauh lebih kompleks dibandingkan sebelumnya. Selain melibatkan kepentingan antarnegara, konflik juga dipengaruhi oleh kemajuan teknologi militer yang semakin canggih.

“Perang hari ini tidak lagi hanya mengandalkan kekuatan fisik, tetapi juga teknologi. Penggunaan drone, sistem pertahanan berbasis kecerdasan buatan, hingga serangan siber menjadi bagian dari realitas baru dalam konflik geopolitik,” ujar Ahmad dalam keterangannya.

Menurutnya, perkembangan alat utama sistem senjata (alutsista) menunjukkan bahwa konflik modern telah bergeser ke arah yang lebih strategis dan teknologi-sentris. Hal ini tidak hanya meningkatkan efektivitas militer, tetapi juga memperbesar risiko dampak kemanusiaan yang lebih luas dan kompleks.

Di sisi lain, Ahmad juga menyoroti kondisi masyarakat Indonesia yang dinilai masih menghadapi tantangan dalam memahami dinamika geopolitik secara utuh. Meskipun akses informasi semakin terbuka, tidak semua masyarakat mampu menyaring dan menganalisis informasi secara kritis.

“Kesadaran masyarakat kita meningkat, tetapi belum sepenuhnya diimbangi dengan literasi yang kuat. Banyak informasi yang beredar justru memicu emosi dan polarisasi,” katanya. (07/04/2026)

Ia menjelaskan, dampak konflik Timur Tengah tidak hanya dirasakan secara langsung di wilayah konflik, tetapi juga berpengaruh terhadap kondisi sosial di berbagai negara, termasuk Indonesia. Solidaritas terhadap korban konflik memang meningkat, namun di saat yang sama muncul potensi perpecahan akibat perbedaan pandangan yang tajam di ruang publik.

Lebih jauh, Ahmad menegaskan bahwa kecanggihan teknologi militer juga membawa tantangan serius terhadap nilai-nilai kemanusiaan. Dalam banyak kasus, penggunaan teknologi perang modern justru berpotensi mengaburkan batas antara target militer dan korban sipil.

“Teknologi seharusnya menjadi alat kemajuan, tetapi dalam konteks konflik bisa berubah menjadi instrumen destruksi yang lebih masif. Ini yang harus menjadi perhatian serius dalam perspektif HAM,” tegasnya.

Ia pun mendorong peran aktif negara dalam meningkatkan kesadaran masyarakat melalui edukasi geopolitik dan penguatan literasi digital. Menurutnya, Indonesia tidak boleh hanya menjadi penonton dalam dinamika global, tetapi harus mampu memahami dan merespons perkembangan dunia secara bijak.

Sebagai informasi, INH merupakan lembaga kemanusiaan Indonesia yang fokus pada bantuan kemanusiaan, khususnya untuk Palestina dan penanganan bencana. Dalam konteks ini, INH menekankan pentingnya pendekatan kemanusiaan dalam melihat setiap konflik, terlepas dari kepentingan politik yang melatarbelakanginya.

Dengan situasi geopolitik yang semakin dinamis, Ahmad menilai bahwa tantangan ke depan tidak hanya terletak pada kekuatan militer, tetapi juga pada kesiapan masyarakat dalam memahami dan menyikapi perubahan global secara rasional dan berimbang.

Posting Komentar

0 Komentar