Jangan Salah Bersandar: Ketika Hati Terlalu Bergantung pada Selain Allah

Ilustrasi Sumber foto unsplash


Bekasi, TerasBatas.com, 06/05/2026 – Di tengah kehidupan modern yang serba cepat dan penuh tekanan, banyak orang tanpa sadar menggantungkan harapan hidupnya pada hal-hal yang bersifat sementara. Fenomena ini menjadi sorotan dalam kajian spiritual yang merujuk pada hikmah dari Ibnu Atha'illah as-Sakandari:

“Keinginanmu untuk mendapatkan sesuatu dari selain Allah adalah tanda terputusnya hubunganmu dengan-Nya.”

Pesan tersebut dinilai relevan dengan kondisi masyarakat saat ini, di mana ketergantungan terhadap manusia, jabatan, dan harta semakin kuat. Banyak orang merasa aman ketika memiliki kedudukan tinggi, relasi luas, dan kondisi finansial stabil. Namun, ketika semua itu berubah atau hilang, tidak sedikit yang mengalami tekanan mental hingga kehilangan arah hidup.

Dalam kajian tersebut dijelaskan bahwa manusia kerap menjadikan makhluk sebagai sandaran utama. Padahal, secara hakikat, semua itu bersifat tidak tetap dan dapat berubah kapan saja. Ketergantungan yang berlebihan inilah yang kemudian memicu rasa kecewa, cemas, bahkan kehancuran batin saat kehilangan terjadi.

“Manusia hari ini sering menjadikan pekerjaan sebagai sumber hidup, jabatan sebagai harga diri, dan harta sebagai jaminan masa depan. Padahal semua itu hanyalah perantara, bukan tujuan,” demikian disampaikan dalam materi tausyiah yang berkembang di tengah masyarakat.

Lebih lanjut dijelaskan, kondisi tersebut bukan berarti seseorang harus meninggalkan dunia atau berhenti berusaha. Sebaliknya, manusia tetap diperintahkan untuk bekerja, membangun relasi, dan mencari rezeki. Namun, yang menjadi pembeda adalah letak hati dalam memandang semua itu.

Jika hati sepenuhnya bergantung pada dunia, maka kegelisahan akan selalu menyertai. Sebab, dunia tidak memiliki sifat kekal. Sebaliknya, jika hati bersandar kepada Allah, maka seseorang akan tetap memiliki ketenangan meskipun menghadapi kehilangan.

Fenomena ini juga kerap terlihat ketika seseorang mengalami kegagalan atau kehilangan. Banyak yang merasa hancur bukan semata karena kehilangan itu sendiri, tetapi karena sandaran hidupnya ikut runtuh. Hal ini menunjukkan bahwa sejak awal, harapan telah diletakkan pada tempat yang kurang tepat.

Para tokoh spiritual menilai bahwa berbagai ujian hidup yang dialami manusia sering kali menjadi cara untuk meluruskan kembali arah hati. Ketika seseorang terlalu bergantung pada manusia, maka ia akan diperlihatkan keterbatasan manusia. Ketika terlalu percaya pada harta, maka ia akan diuji dengan kehilangan. Semua itu bertujuan agar manusia kembali menyadari bahwa sandaran sejati hanyalah kepada Allah.

Dengan demikian, masyarakat diimbau untuk mulai menata kembali orientasi hidupnya. Dunia tetap dijalani, tetapi tidak dijadikan sebagai pusat ketergantungan. Manusia tetap berinteraksi, tetapi tidak dijadikan sumber harapan mutlak.

Kesadaran ini diyakini mampu menghadirkan ketenangan batin yang lebih kuat dan stabil di tengah berbagai dinamika kehidupan.

Pada akhirnya, pesan utama dari hikmah tersebut menjadi pengingat penting: jangan salah bersandar. Sebab, hanya Allah yang tidak pernah berubah, tidak pernah hilang, dan tidak pernah mengecewakan.

(Redaksi)

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama