Harlah ke-66 PMII: Geopolitik Berubah, Strategi Kaderisasi Harus Bertransformasi

Foto H.Abdul Rozak,SH
Wakil Sekjend PB IKA PMII

TerasBatas.Com - Jakarta, 17 April 2026, Peringatan Hari Lahir ke-66 Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) tahun ini tidak hanya menjadi momentum refleksi perjalanan organisasi, tetapi juga ajakan untuk membaca perubahan zaman terutama dalam konteks geopolitik global yang kian dinamis.

Dunia hari ini sedang bergerak cepat. Polarisasi kekuatan global, konflik kawasan, krisis energi dan pangan, hingga disrupsi teknologi telah mengubah cara negara-negara berinteraksi. Indonesia sebagai bagian dari komunitas global tidak bisa berdiri di luar arus tersebut. Dampaknya terasa hingga ke tingkat lokal termasuk dalam kehidupan sosial, ekonomi, dan pendidikan generasi muda.

Dalam konteks ini, kaderisasi tidak bisa lagi berjalan dengan pola lama.

Wakil Sekretaris Jenderal PB IKA PMII, H. Abdul Rozak, menegaskan bahwa perubahan geopolitik harus direspons dengan strategi kaderisasi yang lebih adaptif dan visioner.

“PMII tidak cukup hanya mencetak kader yang kritis secara lokal. Kita harus melahirkan kader yang memiliki perspektif global, memahami dinamika geopolitik, dan mampu mengambil peran strategis di masa depan,” ujarnya.(18/04/2026)

Menurutnya, kader PMII ke depan harus dibekali dengan kemampuan analisis yang lebih luas, tidak hanya soal keagamaan dan sosial, tetapi juga ekonomi politik global, diplomasi, serta teknologi. Hal ini penting agar kader tidak tertinggal dalam menghadapi persaingan global yang semakin kompleks.

Perubahan geopolitik juga membawa implikasi terhadap ketahanan nasional. Isu kedaulatan pangan, energi, hingga digital menjadi tantangan nyata yang membutuhkan peran generasi muda. Dalam hal ini, PMII diharapkan mampu menjadi ruang kaderisasi yang tidak hanya membangun idealisme, tetapi juga kapasitas strategis.

“Geopolitik hari ini menuntut kita untuk berpikir lebih luas. Kader PMII harus siap menjadi pemimpin yang tidak hanya memahami lokalitas, tetapi juga mampu membaca arah dunia,” tambahnya.

Lebih jauh, ia menekankan bahwa transformasi kaderisasi tidak berarti meninggalkan nilai dasar organisasi. Justru, nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah tetap menjadi fondasi utama dalam membentuk karakter kader yang moderat, toleran, dan berintegritas.

Momentum Harlah ke-66 ini menjadi titik penting bagi PMII untuk melakukan reposisi dari sekadar organisasi mahasiswa menjadi pusat pengkaderan yang relevan dengan tantangan global. Kaderisasi tidak lagi hanya soal jumlah, tetapi kualitas dan kesiapan menghadapi perubahan zaman.

Dengan semangat “Aksi Nyata untuk Indonesia”, PMII diharapkan mampu melahirkan generasi yang tidak hanya responsif terhadap perubahan, tetapi juga mampu menjadi bagian dari solusi. Di tengah pusaran geopolitik global, kader PMII dituntut hadir sebagai aktor yang cerdas, adaptif, dan berdaya saing tinggi demi masa depan Indonesia.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama