![]() |
| Ilustrasi foto sumber unsplash |
TerasBatas.com,20/04/2026 – Di panggung kekuasaan yang sering kali mendung oleh ambisi, sebuah drama abadi kembali dipentaskan. Ini adalah kisah tentang bagaimana manusia, yang seharusnya menjadi nakhoda bagi rakyatnya, justru karam dalam pusaran yang ia ciptakan sendiri sebuah pusaran yang ditenun dari dua helai benang paling purba, kilauan perak harta dan lembutnya rayuan asmara.
Pusaran Artha dan Kama
Sejarah manusia sebenarnya adalah catatan panjang tentang peperangan melawan diri sendiri. Dalam literatur klasik Sanskerta, dikenal konsep Artha (harta), Kama (hasrat), dan Dharma (kebenaran). Harta dan Hasrat ibarat dua kuda liar yang gagah; jika dikendalikan dengan tali Dharma, mereka akan membawa sang ksatria ke puncak kemuliaan. Namun, ketika tali itu putus oleh gunting ketamakan, sang ksatria justru akan tergilas oleh kereta perangnya sendiri.
Dalam banyak skandal korupsi modern, uang bukan lagi sekadar alat kesejahteraan, melainkan "madu yang beracun." Begitu pula wanita, yang dalam narasi klasik sering kali digambarkan sebagai ujian terakhir bagi para penguasa. Bukan karena wanitanya yang buruk, namun karena ketidakmampuan lelaki penguasa dalam mengendalikan dorongan egonya.
Bisikan dari Kitab Kuning dan Klasik
Dengarlah peringatan dari naskah Ihya Ulumuddin karya Imam Al-Ghazali. Beliau menggambarkan dunia sebagai samudera dan harta adalah airnya. Air sangat dibutuhkan agar kapal bisa berlayar, namun jika air itu merembes masuk ke dalam lambung kapal, maka tenggelamlah ia. Al-Ghazali menekankan bahwa Hubbud-dunya (cinta dunia) dan syahwat adalah pintu masuk setan yang paling lebar.
Argumentasi ini diperkuat dalam literatur Jawa kuno, seperti Serat Wedhatama dan Nitisastra. Di sana diingatkan bahwa pemimpin yang kuat adalah ia yang telah "selesai dengan dirinya sendiri" ia yang tidak lagi lapar akan pujian dan tidak haus akan kenikmatan fana yang mencuri hak orang banyak.
Cermin Retak, Dari Ken Arok hingga Kaisar Xuanzong
Sejarah adalah guru yang jujur sekaligus kejam. Kita diingatkan pada sosok Ken Arok dalam kitab Pararaton. Gemetar tangannya saat memegang keris bukan hanya karena bayang-bayang kekuasaan, tapi karena gejolak hasrat pada Ken Dedes. Sebuah simbol bahwa kecantikan sering kali menjadi gerbang pembuka bagi ambisi yang tak terkendali.
Begitu pula kisah Kaisar Xuanzong dari Dinasti Tang yang runtuh karena obsesinya pada Yang Guifei, hingga mengabaikan urusan negara dan membiarkan korupsi merajalela. Di zaman ini, wanita sering kali menjadi "muara" dari aliran dana gelap mulai dari pemberian tas bermerek, apartemen mewah, hingga gratifikasi seksual yang semuanya dibayar dengan uang rakyat.
Simbiose Mutualisme yang Mematikan
Pusaran korupsi menjadi sempurna ketika uang dan wanita bertemu dalam satu titik. Uang digunakan untuk membeli kesetiaan dan kecantikan, sementara tuntutan gaya hidup dari lingkungan asmara menuntut aliran uang yang terus menerus. Ini adalah lingkaran setan yang diistilahkan dalam naskah kuno sebagai hilangnya kesadaran akibat tekanan nafsu.
Sebagaimana ditulis dalam Artha Sastra karya Kautilya, korupsi adalah seperti "ikan yang meminum air di dalam kolam"sulit dideteksi, namun lambat laun akan mengeringkan sumber daya. Korupsi yang dipicu oleh harta dan asmara adalah pengkhianatan yang paling purba; ia bukan hanya pelanggaran hukum, tetapi keruntuhan moralitas dasar.
Sebuah Pengingat Abadi
Tahta hanyalah selembar tikar yang dipinjamkan sebentar. Jika tikar itu dikotori oleh noda pengkhianatan demi memuaskan dahaga akan harta dan pemanjaan syahwat, maka wangi harum nama sang pemimpin akan berubah menjadi bau busuk yang disumpahserapahi oleh anak cucu.
Pada akhirnya, ketika jeruji besi menutup pintu kebebasan, kemewahan harta akan sirna dan janji asmara biasanya akan menguap. Kita diingatkan kembali bahwa sejatinya, penjara yang paling sempit bukanlah sel besi, melainkan hati yang diperbudak oleh keinginan yang tak pernah selesai.
Sumber : Tim Redaksi TerasBatas.com
