Membaca Lambang NU Ketika Tasbih Syaikhona Kholil Menjelma Tali Jagat

Ilustrasi teatrikal yang menggambarkan pertautan mistis dua benda pusaka penanda lahirnya Nahdlatul Ulama: Tongkat Hadratussyaikh KH Hasyim Asy'ari (Jombang) dan Tasbih Syaikhona Kholil (Bangkalan), yang esensinya kini abadi mengikat bola dunia dalam lambang PBNU.


Bekasi,TerasBatas.com (25/5/2026) - Bagi sebagian besar orang, lambang Nahdlatul Ulama (NU) adalah sebuah karya seni grafis religius yang agung. Garis-garis hijau yang membentuk bola dunia, sembilan bintang yang bersinar, dan lilitan tali yang mengikat bumi. Lambang yang lahir dari perenungan spiritual KH Ridwan Abdullah lewat petunjuk istikharah itu, kini berkibar di jutaan sudut Nusantara.

Namun, jika kita membawa lambang ini ke arena Muktamar PBNU dan meletakkannya di bawah cahaya sejarah, kita akan menemukan sebuah rahasia spiritual yang bergetar hebat. Lambang NU bukan sekadar gambar diam. Ia adalah visualisasi dari rahim sejarahnya sendiri: sebuah pertautan mistis antara "tasbih" Syaikhona Kholil Bangkalan dan "tongkat" Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari.

Tali Jagat yang Melingkar: Di Mana Tasbih Itu Berada?

Perhatikan lingkaran tali yang mengikat bola dunia dalam lambang NU. Secara eksoteris (makna luar), kita mengenalnya sebagai lambang "hablum minallah" (hubungan dengan Allah) dan "hablum minannas"(hubungan antar-manusia), atau simbol persaudaraan kaum nahdliyin yang tak boleh putus.

Namun secara esoteris (makna dalam), lilitan tali dengan 99 jalinan untaian itu adalah manifestasi dari "tasbih Syaikhona Kholil Bangkalan".

Ketika Syaikhona Kholil mengirimkan seuntai tasbih kepada Kiai Hasyim Asy'ari pada tahun 1925 melalui pemuda yaitu KH As'ad Syamsul Arifin, beliau sedang tidak sekadar berkirim hadiah. Tasbih itu dikalungkan di leher pemuda As'ad dengan iringan wirid "Ya Jabbar, Ya Qahhar".

Dalam lambang NU, tasbih itu kini menjelma menjadi tali yang melingkari bumi. Pesan spiritualnya begitu benderang, "NU bertugas mengelilingi dan mendekap dunia dengan zikir".

Muktamar NU, dengan segala dinamika intelektual dan politiknya, dipagari oleh lingkaran tasbih ini. Ia menjadi pengingat bagi siapa saja yang berebut kemudi di PBNU, bahwa organisasi ini tidak diikat oleh kepentingan duniawi, melainkan diikat oleh untaian zikir, asmaul husna, dan ketundukan spiritual yang total. Jika ikatan "tasbih" ini lepas, maka runtuhlah jagat raya NU.

Garis Khatulistiwa dan Tegaknya Tongkat Komando

Lalu, di mana letak tongkat kayu yang dikirim oleh Sang Mahaguru dari Madura tersebut?

Tengoklah garis lurus khatulistiwa yang membelah bola dunia di lambang tersebut, atau perhatikan bagaimana huruf "Nun" dan "Alif" dalam tulisan Arab "Nahdlatul Ulama" saling mengunci dengan tegas. Di sanalah "tongkat" itu tegak berdiri.

Tongkat yang dikirim Syaikhona Kholil dengan kutipan Surah Thaha tentang Mukjizat Nabi Musa adalah simbol otoritas, kedaulatan, dan daya hidup. Tongkat adalah alat untuk menuntun, menegakkan yang bengkok, dan membelah samudera rintangan.

Jika tali jagat (tasbih) berbentuk lingkaran yang elastis dan rahim melambangkan sifat "jamaliyah" (keindahan, kasih sayang, dan fleksibilitas NU), maka garis-garis tegas di dalam lambang itu melambangkan sifat "jalaliyah" (keagungan, ketegasan, dan prinsip yang tak boleh goyah).

Muktamar: Menyelaraskan Simpul Tali dan Ketegasan Garis

Membaca Muktamar PBNU dari balik dinding sejarah tasbih dan tongkat ini membuat kita sadar; muktamar adalah ritus lima tahunan untuk mengecek kembali simpul tali tersebut. Apakah lilitannya melonggar? Atau justru jalurnya melenceng?

Saat ribuan kiai, santri, dan cendekiawan berkumpul di arena muktamar, mereka sedang menguji elastisitas "tali tasbih" NU dalam menghadapi zaman digital dan geopolitik modern. NU dituntut untuk tetap longgar dan ramah merangkul perbedaan peradaban, namun tetap kuat mengikat jagat agar tidak tercerai-berai.

Di saat yang sama, muktamar adalah momen untuk menghentakkan kembali "tongkat" komando. Menegaskan kembali posisi NU sebagai benteng khittah, pengawal NKRI, dan juru bicara umat yang tak bisa dibeli oleh syahwat kekuasaan sesaat.

Pada akhirnya, siapa pun yang terpilih memimpin PBNU, sejatinya mereka hanyalah khadim pelayan yang dititipi tugas berat, menjaga agar jalinan tali tasbih Syaikhona Kholil tetap melingkari bumi dengan damai, sementara tongkat prinsip Mbah Hasyim tetap tertancap kuat menghadap kiblat zaman. 

(Red).


Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama