![]() |
| Ilustrasi gambar sumber unsplash |
Bekasi,TerasBatas.com (32/05/2026) - Di era di mana batas antara fiksi ilmiah dan realitas harian hampir sepenuhnya runtuh, peradaban manusia sedang berada di ambang batas nalar yang membingungkan. Kita menyaksikan kecerdasan buatan meniru vokal manusia dengan kehangatan emosional yang identik, sementara jejaring satelit di luar angkasa mampu menembus pekatnya awan badai untuk mengunci citra bumi dalam hitungan detik. Ketika kecanggihan riset menyentuh level yang sedemikian masif, otak manusia secara alami mengalami gegar budaya yang akut. Menghadapi lompatan yang terlalu abstrak ini, industri teknologi global tidak memilih bahasa matematika yang kaku untuk mengenalkannya, melainkan berpaling pada warisan kamus mistis masa lalu sebagai jembatan pemahaman.
Fenomena psikologis ini berakar kuat pada sebuah maksim terkenal dari seorang pemikir visioner, Arthur C. Clarke, yang menyatakan bahwa teknologi yang sangat maju tidak akan dapat dibedakan dari sihir. Bagi masyarakat awam, baris-baris kode biner dan kalkulasi algoritma rumit di balik layar gawai adalah sesuatu yang mustahil dicerna secara instan. Di sinilah industri bermain dengan cerdas melalui metafora fungsional. Dengan meminjam nama-nama entitas spiritual kuno yang mahatahu atau pelayan gaib yang bekerja dalam senyap, publik seketika mendapatkan gambaran utuh tentang fungsi alat tersebut tanpa perlu pusing memahami rumitnya sistem komputasi awan yang bekerja di belakangnya.
Ketika sebuah raksasa basis data dunia dinamai dengan istilah peramal wanita masa lalu yang mampu membaca masa depan, atau saat program otomatis di latar belakang komputer dijuluki dengan ejaan kuno untuk bangsa jin pelayan, sebuah ilusi kedekatan sedang dibangun. Nama-nama mistis ini bertindak sebagai penerjemah kultural yang meredam kepanikan massal atas ketidakpastian teknologi. Manusia modern yang semula merasa terasing oleh dinginnya sirkuit silikon, mendadak merasa akrab karena alat-alat canggih tersebut dikemas dalam bungkus simbolisme yang sudah tertanam di alam bawah sadar kolektif mereka sejak zaman purba.
Namun, di balik kenyamanan bahasa metafora ini, tersimpan sebuah ruang refleksi yang kritis bagi tatanan sosial hari ini. Penggunaan nama-nama gaib pada hasil riset ilmiah membuktikan bahwa hasrat dasar manusia dari zaman peradaban kuno hingga era digital tidak pernah benar-benar berubah. Kita selalu mendambakan kekuatan absolut untuk menaklukkan keterbatasan ruang dan waktu. Ironinya, ketika manusia masa lalu berupaya mewujudkannya lewat jalur bersimpangan berupa kontrak kegelapan, manusia modern melakukannya lewat laboratorium sains, namun tetap membaptis hasilnya dengan identitas mistis yang sama.
Pada akhirnya, kesadaran akan efek psikologis ini harus menjadi pengingat agar kita tidak kehilangan arah moral di tengah derasnya arus modernisasi. Teknologi canggih yang kita nikmati hari ini adalah murni buah dari ketekunan riset atas hukum alam yang konsisten, bukan hasil dari keajaiban supranatural. Membaca nama mistis pada gawai kita seharusnya tidak membuat kita tunduk secara buta pada kendali algoritma seolah mereka adalah kekuatan sakral yang tak tersentuh. Manusia harus tetap menjaga kejernihan nalar dan keteguhan iman, memastikan bahwa kendali moral tetap berada di tangan hati nurani, bukan diserahkan pada pelayan-pelayan digital tanpa jiwa yang kita ciptakan sendiri.(Red)
